• RSS
  • Facebook
  • Twitter
Tampilkan postingan dengan label One Day One Ayat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label One Day One Ayat. Tampilkan semua postingan
Comments

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu 'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Ehm, sebelumnya, ane mau klarifikasi dulu. Sebenernya judul post ini tuh pengennya dibikin kaya begini:

Menjemput Rezeki Untuk Dengan Menikah [An-Nuur: 32]

Hha, ya kira-kira begitulah. Tapi karena judul post ga bisa dibikin dicoret kaya gitu, jadi ane bikin judul aslinya di dalem postnya aj langsung. XD

Ok, kita mulai.

Secara klasik, kebanyakan dari kita berpikir bahwa "untuk" menikah kita harus punya kesiapan dalam segi materi. Entah itu untuk membiayai proses pra nikah, saat nikah, ataupun pasca nikah. Tapi tidak begitu halnya dengan para muslimin-muslimat yang berpegang teguh pada Al-qur'an. Karena dalam Al-qur'an, justru "dengan" menikahlah kesiapan materi akan dicukupkan dengan sendirinya oleh Allah SWT. Insya Allah. :)
Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
[An-Nuur: 32]
Yap, ini adalah janji Allah dalam Qur'an-Nya. Ibaratnya jika ane adalah seorang gadis *misal doank lho y, ane aslinya laki-laki tulen kok XD*, ane belum tentu menerima seorang laki-laki kaya yang melamar ane dengan berkata,
"Cewe, nikah ama abang yuk. Abang udah punya banyak harta yang bisa menghidupkanmu nih."
Beh, ane paling gedeg malah am cowo yang so' kaya begini,
"Bang, yang menghidupkan tuh Allah, bukan Abang. Abang aja pas lahir cuma bisa owe-owe am ngompol aj, ko sekarang so-so'an mau ngehidupin aye. Ih, istighfar, Bang."
However, ane pribadi bakal lebih prefer ama cowo gentle yang datang melamar dengan berkata,
"Bismillah, salam, ukhtii. Ane ke sini bermaksud melamar anti untuk menyempurnakan separuh agama ane dan anti. Tidak ada jaminan apa-apa yang bisa ane berikan untuk anti, tapi cukup keimanan anti pada Qur'an lah yang dapat meyakinkan anti. Karena dalam Qur'an-Nya, Ia yang langsung menjamin hamba-Nya yang hendak menikah untuk melaksanakan perintah-Nya. So, Will you marry me, ukhtii?"
Argh, melting dah pasti ane klo beneran jadi cewe yang dilamar kaya gitu. *oops, kudu ikhlas nerima qodrat terlahir sebagai cowo. :p*

Yaa, kalian para akhwat insya Allah bisa lah menentukan siapa gentle sebenernya di antara contoh cowo-cowo di atas. :)

Kalo ane coba rangkai kata-kata mutiaranya, kira-kira begini versi ane:
Ketangguhan seorang laki-laki bukanlah dari bagaimana ia berani melangkah ketika ia menganggap dirinya mampu, tapi ketangguhan seorang laki-laki adalah dari bagaimana ia berani melangkah ketika ia yakin Allah meridhoi dan mendukung tiap langkahnya.
So, untuk kalian para ikhwan, jangan pernah ragu untuk melamar para akhwat. Tidak perlu mengukur kemampuan diri kita, tapi cukup ukur keikhlasan kita mengamalkan perintah suci untuk menikah ini. Keikhlasan kitalah yang akan menjadi jaminan bahwa Allah akan memampukan kita dengan karunia-Nya. Insya Allah. Coba untuk tawakkal kepada-Nya. :)

Nah, kalo kalian sudah terprovokasi untuk ga menunda melamar, sekarang tinggal persoalan bagaimana menjemput rezeki yang telah Allah janjikan untuk para calon pelepas bujang seperti kita.

Sebelumnya, ane mau nanya dulu. Kenapa ane menggunakan kata "menjemput rezeki" di sini? Kenapa bukan "menerima rezeki"? Yap, karena rezeki memang begitu. Sekalipun Allah menjamin akan mencukupkan rezeki kita, tapi kita tidak bisa serta merta hanya berdiam diri menunggu datangnya rezeki. Karena janji jaminan rezeki dari Allah ini hanya berlaku bagi hamba-Nya yang kaffah (menyeluruh) dalam melaksanakan perintah-Nya dalam Qur'an. Karena kaffah-nya inilah parameter keikhlasan kita. So, kalau mau rezeki kita terjamin karena niat menikah kita, kita harus melirik juga ke ayat Qur'an lainnya,
Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.
[An-Najm: 39]
Nah, kalau niat menikah kita memang ikhlas untuk menunaikan perintah-Nya, kan ayat ini perintah-Nya juga, jadi harus ditunai-in juga donk. So, kalau ud niat melamar, kudu diniatin juga untuk lebih bersungguh-sungguh lagi dalam berusaha menjemput rezeki dari-Nya. :)

Terus, bagaimana cara menjemput rezeki dari-Nya ini? Nah, kalo masalah ini, ane kembaliin ke diri kita masing-masing deh. Karena kita semua punya cara berusaha masing-masing, yang penting niatnya ikhlas dan caranya tidak bertentangan dengan Qur'an dan Sunnah. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Layl,
Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan demi penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.
[Al-Layl: 1-4]
Nah, setelah kita sudah memilih bagaimana cara kita berusaha menjemput rezeki ini, supaya dipermudah usahanya, coba kita lirik ke ayat selanjutnya. :)
Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.
[Al-Layl: 5-7]
Yap, agar jalan usaha kita dipermudah oleh Allah, tipsnya banyak kok bertebaran dalam Al-qur'an. Dan salah satunya ada di ayat tersebut, yakni: Sedekah, Taqwa, dan Iman. :)

Perbanyak bersedekah, sempurnakan ketaqwaan dengan kaffah dalam beragama, dan perteguh iman kita bahwa sebaik-baiknya balasan adalah pahala dari Allah di kehidupan akhir.

Sekian share ilmu dari ane. Semoga bermanfaat buat para pembaca dan ane pribadi. Aamiin.

Selamat berjuang melepas masa bujang. :)

Salam.
[...]

Categories:
Comments

Bagai karang yang diterpa ombak di samudra,
Sang ilalang tak enggan diterpa angin badai yang menghembusnya.
Bagai mentari yang menampakkan sinarnya,
Sang rembulan tak enggan bercahaya di sisi lain kegelapannya..

Manusia makhluk yang paling sempurna.
Tapi ia kalah oleh makhluk lainnya,
Yang mampu mengubah ketidaksempurnaannya,
Menjadi bentuk kesyukuran yang memancarkan kebermanfaatan bagi sekelilingnya.

Renungi,
Dalam kesempurnaan yang diri ini miliki,
Ada amanah besar yang tak bisa dipungkiri,
Pertanggungjawaban di hadapan Ilahi.

Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?
[Q.S. Al-Mu'minuun: 115]
[...]

Categories:
Comments


"Kalla, Balla tukrimunal yatim, wala tahaddhuna ala tha'amil miskin" [Al-Fajr: 17-18]
[...]

Categories:
Comments

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu 'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Ikhwah Fillah.

Setelah baca judul tulisan yang provokatif ini, silakan antum cek deh di google. Di luar sana, mungkin antum bakal banyak menemukan artikel-artikel bertebaran yang mendebatkan tentang "menabung" juga. Entah itu mendebatkan tentang hukum menabung di bank konvensional yang berpotensi "riba". Atau bahkan saat menabung di bank syariah pun, masih juga ada yang mendebatkan tentang "tidak syar'i"-nya bank syariah itu sendiri.

Wallahu a'lam bishshawwab.

Terlepas dari perdebatan tentang menabung di bank konvensional atau syariah, ane di sini justru lebih tertarik mengangkat wacana yang lebih ringan dari itu semua. Tapi mungkin sesuatu yang kecil/ringan inilah yang justru menjadi "kulit pisang di jalanan" bagi perdebatan fiqih high-class tentang bank konvensional atau syariah ini. 

Nah, antum kepikiran ga apa yang ane maksud dengan "kulit pisang"-nya perdebatan tentang menabung di bank? Ini sesuatu yang fundamental dan basic banget. Tapi, ya inilah yang justru jadi pondasi bagi hukum menabung itu sendiri. Percuma ngedebatin nabung di bank konvensional atau syariah, kalo ternyata "menabung" itu sendiripun sebenernya haram atau ga diridhoi Allah. Na'udzubillah.

Biar lebih jelas, ane gambarin sesuatu yang fundamental ini ke dalam pertanyaan-pertanyaan ini deh:

Apakah benar Islam mengajarkan tentang menabung?
Jika ya, seperti apa tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah tentang menabung?
Apakah pemahaman kita tentang apa itu "menabung" sudah sama dengan yang diajarkan dalam Islam?
Atau jangan-jangan "menabung"-nya kita selama ini justru malah tergolong sebagai menumpuk-numpuk harta?

Na'udzubillahi min dzalik.

Nah, Ikhwah Fillah sekalian. Kalau antum penasaran sama jawaban pertanyaan-pertanyaan ini, silakan lanjutin baca. Tapi inget baca basmalah dulu, "Iqra, bismirabbikalladzi khalaq". Karena tujuan tulisan ini untuk semata-mata mengharap ridho Allah, yakni sekedar saling mengingatkan dalam kebenaran, "Watawa shawbilhaq". Bukan untuk berdebat kusir yang mengundang rasa 'ujub dalam diri kita, Na'udzubillah.

Oke, Bismillah. Kita mulai ya. Here we go!

Bagaimana persepsi kita tentang apa itu "menabung"?

Antum inget ga? Dari kecil, tepatnya sejak SD, kita mungkin udah tertanamkan stigma tentang menabung. "Menabung pangkal kaya". Atau teman dekatnya, "hemat pangkal kaya".

Ga ada yang salah kok dengan pepatah "hemat pangkal kaya". Karena Al-Qur'an pun memang mengajarkan tentang berhemat, atau lebih tepatnya tidak boros. bahkan Al-Qur'an mengajarkannya lebih sempurna, yakni jangan boros tapi jangan terlalu kikir juga. Pergunakan harta ya sesuai kebutuhannya aja.
"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”
[Al-Furqan: 67]
Ane setuju ama pepatah "hemat pangkal kaya". Karena pada hakikatnya kaya itu adalah memiliki pendapatan melebihi apa yang kita butuhkan. Jadi bener, hemat dengan memilah antara mana yang benar-benar kita "butuhkan" dengan apa yang sekedar cuma kita "inginkan" pasti akan menjamin pendapatan kita melebihi apa yang kita butuhkan. Jadilah kita orang kaya jika kita berhemat.

Nah, tapi gimana dengan pepatah "menabung pangkal kaya"? Ane pribadi kurang setuju ama pepatah ini. Kenapa? Karena masih banyak persepsi yang keliru dari diri kita sendiri tentang apa itu menabung.

Persepsi keliru 1: Ketika harta sudah melebihi apa yang dibutuhkan, ya sisanya ditabung.

Kebanyakan orang pasti berpikiran bahwa persepsi ini cukup bijak. Walaupun sebagian besar orang bilang persepsi ini benar, tapi ane ga akan menyimpulkan persepsi ini benar. Karena parameter kebenaran atau kesalahan itu bukan dilihat dari kaca mata manusia, tapi dari tuntunan pedoman hidup kita: Qur'an dan Sunnah.

Nah, apa antum pernah nemu ayat Qur'an yang mengajarkan bagaimana kita seharusnya menyikapi harta yang sudah melebihi apa yang kita butuhkan? Antum mau khatam berkali-kalipun Al-Qur'an, insya Allah antum ga akan nemuin satupun ayat yang menganjurkan untuk menabungnya. Tapi antum akan nemuin satu ayat yang ngebahas tentang ini. Yap, silakan buka ayat yang tercantum di judul tulisan ini.
"... Dan mereka bertanya pula kepadamu apa yang mereka akan nafkahkan. Katakanlah: 'yang berlebih dari keperluan'. Demikian Allah menerangkan kepada kamu ayat-ayatnya supaya kamu berfikir"
[Al-Baqarah: 219]

Gimana? Jelas 'kan? Ya, Al-Qur'an mengajarkan, jika ada harta kita yang melebihi keperluan kita, ya sisanya itu harus dinafkahkan. Bukan ditabung. Kalo bingung dinafkahkan gimana maksudnya, itu dijelasin kok di beberapa ayat sebelum ayat tadi.
“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: 'Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan'. Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Mengetahuinya.”
[Al-Baqarah: 215]
Nah, inilah keindahan yang diajarkan Al-Qur'an. Ketika kita memiliki kelebihan harta atau rezeki, daripada ditabung, lebih baik kita coba untuk lebih peka dulu dengan keadaan orang lain di sekitar kita, terutama orang-orang terdekat kita. Apakah ada di antara mereka yang membutuhkan harta itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Jika ada, maka nafkahkanlah kelebihan harta itu untuk mereka. Subhanallah, inilah yang diajarkan oleh Islam. Begitu indah kepedulian sosial yang diajarkan di dalamnya.

Nah, menanggapi hal ini, mungkin akan muncul persepsi keliru selanjutnya di benak kita.

Persepsi keliru 2: Menabung itu kan untuk jaminan masa depan. Siapa tahu ada keperluan mendadak.

Wallahi, demi Dzat yang begitu sempurna mengatur rezeki setiap makhluk-Nya tanpa terkecuali. Jangan pernah tertipu dengan persepsi seperti ini, yaa ikhwah Fillah. Tentunya antum sudah familiar dengan surat-surat pendek di akhir juz 'amma kan? Antum insya Allah familiar juga dengan ayat ini.
"Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya (dapat) mengekalkannya."
[Al-Humazah: 1-3]
Akhi dan ukhti, jangan pernah berpikir bahwa dengan menabung itu akan menjamin masa depan kita. Sungguh celaka jika kita berpikir seperti ini. Antum tahu kan bagaimana kelanjutan ayat ini menggambarkan akhir cerita dari orang-orang yang berpikir seperti ini? Na'udzubillahi min dzalik. Ane ga berani melanjutkan ayat ini sampai habis, karena begitu dahsyatnya kengerian adzab yang digambarkan di dalamnya.

Tapi tenang. Islam tidak pernah menafikan sesuatu tanpa memberikan alternatif solusinya. Islam tidak pernah melarang sesuatu tanpa memberikan jalan lain yang lebih suci untuk dijalani. Sebagaimana dalam syahadat, Islam mengajarkan bahwa tidak ada tuhan yang patut disembah, lalu Islam memberikan jalan lain yang mutlak lebih benar, yakni hanya Allah lah yang patut disembah. Islam melarang kita untuk berzina, lalu Islam memberikan jalan lain yang lebih suci, yakni menikah. Islam melarang memakan harta riba, lalu Islam memberikan pintu rezeki lain yang lebih suci, yakni jual-beli.

Begitu juga dengan kekhawatiran kita akan adanya keperluan mendadak di masa depan. Islam tidak serta merta hanya melarang kita untuk mengumpulkan harta dan menganggapnya sebagai jaminan masa depan. Tapi Islam justru memberikan jaminan masa depan dalam bentuk lain yang lebih suci dari itu.
"Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu."
[Ath-Thalaq: 2-3]
Wallahi, demi Dzat yang begitu sempurna mengatur rezeki setiap makhluk-Nya tanpa terkecuali. Inilah janji Allah kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Jika kita dengan ikhlas patuh kepada perintah Allah untuk menjauhi pemikiran bahwa tabungan akan menyelamatkan kita dari keperluan mendadak di masa depan, insya Allah, Allah-lah yang akan memberikan jalan keluar untuk keperluan mendadak itu dengan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka oleh kita. Dan jika kita dengan penuh keyakinan mewakilkan segala urusan kita kepada Allah, maka bergembiralah, karena kita baru saja mempercayakan urusan kita kepada Dzat yang Maha Kaya dan Maha Pemberi Kekayaan.

Nah, gimana? Udah yakin belum untuk membuang jauh-jauh pemikiran menabung demi jaminan masa depan? Kalo masih ragu, ane ngerti apa yang antum raguin. Menanggapi ini, mungkin akan lahir persepsi keliru selanjutnya di benak kita.

Persepsi keliru 3: Kalo ga boleh nabung, masa kita harus ngehabisin saat itu juga rezeki yang baru kita dapet?

Masya Allah, siapa yang bilang ga boleh nabung, Akh/Ukh? Dari dua pembahasan sebelumnya, kita jangan malah jadi nyimpulin nabung tuh haram. Nabung boleh ko. Bahkan Rasulullah saw pun pernah mencontohkannya,
“...Rasulullah saw pernah membeli kurma dari Bani Nadhir dan menyimpannya untuk perbekalan setahun buat keluarga...”
[HR Bukhari]
Yang ga boleh itu menabung harta ketika kebutuhan kita sudah terpenuhi tapi di saat yang sama ada orang lain dekat kita yang masih kekurangan. Kalo menabung harta untuk kebutuhan kita nanti, ya sah-sah aja. Asalkan kebutuhan itu memang kebutuhan yang sudah jelas dan benar adanya. Bukan kebutuhan yang cuma terka-terkaan kita aja.

Misal, buat para mahasiswa, kan bayaran biaya kuliahnya rutin tiap semester. Nah, ini tergolong kebutuhan yang nyata yang harus dipenuhi dulu. Walaupun belum saatnya untuk bayar saat itu juga, tapi sudah menjadi hak atau bahkan kewajiban kita untuk menyisihkan harta kita untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan menabung.

Tapi kalo untuk kebutuhan-kebutuhan mendadak yang kita ga tahu itu dalam bentuk kebutuhan apa nanti, kita ga perlu menabung untuk itu. Misal, khawatir nanti kecelakaan, terus butuh biaya operasi yang mahal. Masya Allah, kita ga perlu nabung untuk hal-hal yang belum pasti kaya gini, Akh/Ukh. Seolah-olah kita nyumbang duit ke bank atau celengan terus minta didoain supaya duitnya cukup buat biaya operasi kalo kecelakaan. Ini mah sama aja kita secara ga langsung minta didoain supaya kecelakaan. Na'udzubillah

Dari pada begitu, mending kita ikutin tuntunan Al-Qur'an yang kita bahas tadi. Duit berlebihnya sumbangin buat Ibu kita yang mungkin saat itu lagi ngidam mesin jahit untuk ngisi waktu luangnya di masa-masa tuanya. Atau sumbangin buat Ayah kita yang saat itu kita melihat beliau masih menggunakan sepatu bolongnya untuk berangkat ke kantor. Atau sumbangin buat Saudara dan Sahabat kita yang baru mendapat musibah saat itu. Atau cari anak yatim dan fakir miskin di dekat kediaman kita untuk mastiin apakah kebutuhan mereka hari itu sudah terpenuhi atau belum. Dan pokoknya banyak cara yang lebih suci untuk menafkahkan harta kita yang berlebih itu ketimbang menabung untuk jaminan masa depan.

Dengan begini, insya Allah masa depan kita lebih pasti terjamin, karena akan banyak doa yang mengalir dari Ibu-Ayah kita, kerabat kita, yatim, fakir miskin, dan orang-orang sholeh lainnya untuk kebaikan dan keberkahan hidup kita. insya Allah.

Ikhwah Fillah. Begitu indah kan ajaran Islam dalam mengelola harta yang berlebih? :)

Alhamdulillah.

Sekian pembahasan ayat-ayat yang mau ane sampaikan dalam tulisan ini. Semoga ilmu ini bukan menjadikan kita pribadi yang sombong dalam berjejak pendapat, tapi justru mengantarkan kita menjadi orang-orang yang semakin dikuatkan keimanannya dan menjadi orang-orang yang lebih ditinggikan beberapa derajat kemuliaannya di sisi Allah SWT. Aamiin Yaa Rabbal 'alamin.

Mohon maaf atas kekurangan dan kelebihan dalam tulisan ini. Kesalahan berasal dari kelalaian dan kelemahan ane pribadi. Dan kebenaran mutlak berasal dari Allah SWT.

Wassalamu 'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu.
[...]

Categories:
Comments

Allah,
I can not see You.
But I can feel You.
Just by looking at my self.
I see there are a lot of wonder spread in front of me.
Such perfect harmony of nature.
These proofs is enough for me.
To believe the presence of You.

Allah,
You know every single word I say.
Even every single word whispered in my heart.
Therefore, I always try to keep it all just for Your Pleasure.
When I talk to someone, I don't act like it just between me and him/her.
Because I always feel the presence of You among us.
So, how can I dare to say even a lie in it?

Allah,
I feel the presence of You.
It makes me hold myself whenever I'm about to do any wrong deeds.
It makes my life easy.
 And it can not be much simpler.
Alhamdulillah.

Qaf {50:16}
"We verily created man
and We know what his soul whispereth to him,
and We are nearer to him than his jugular vein."
[...]

Categories:
Comments

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu 'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Akhi, Ukhti.. Begitu banyak hikmah terkandung dalam Al-Qur'an. Tidak hanya mengajarkan kita tentang tuntunan hidup, tapi juga menceritakan tentang kisah-kisah yang sangat inspiratif.

Teringat suatu kisah dalam Qur'an tentang kasih seorang ibu. Yang darinya kita belajar tentang bagaimana besarnya cinta seorang ibu kepada anaknya, bagaimana rindu seorang ibu saat melepas anaknya, dan bagaimana kuatnya doa seorang ibu untuk kebaikan anaknya.

Hikmah tentang ibu ini kita bisa renungi dari ayat Qur'an dalam Surat Al-Qashash ayat 7.
Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul."  [Al-Qashash: 7]
"Laa Tahzan, Ummu Musa."

Perkataan ini yang diilhamkan langsung oleh Allah SWT kepada sang ibu.

"Jangan bersedih hati, wahai ibu musa".

Kekhawatiran dan kesedihan memang sedang menyelimuti hati seorang wanita israil ini yang baru saja melahirkan bayi laki-laki yang kelak menjadi Rasul Allah, Musa (as). Tapi, kesedihan macam apa yang membuat Allah SWT hendak secara langsung mengilhamkan sang ibu untuk tidak bersedih hati? Ya, pastilah itu suatu kesedihan yang amat besar, dan tidak ada kesedihan seorang ibu yang paling besar melainkan kekhawatiran kehilangan anaknya. Di saat negerinya digemparkan dengan kebijakan pemimpin mereka yang zhalim, Fir'aun, yang dengan keji membunuh setiap anak laki-laki dari keturunan israil.

Kisah pengilhaman Allah SWT secara langsung kepada ibu Musa (as) agar ia tak bersedih hati karena khawatir kehilangan anaknya ini mengajarkan kepada kita bahwasanya Allah SWT menganggap kesedihan seorang ibu kehilangan anaknya memang sesuatu ujian yang sangat berat bagi sang ibu. Maka dari itu, masihkah kita meremehkan air mata ibu kita hingga saat ini? Tidak, sungguh benar-benar merugi seorang anak yang tidak mengacuhkan setitikpun air mata sang ibu, di saat Allah SWT jelas-jelas sangat peduli dengan air mata cinta seorang ibu kepada anaknya.

"Laa Tahzan, Ummi"

Pernahkah kata itu terucap untuk ibu kita, yaa akhi dan ukhti? Kata-kata inilah yang telah menumbuhkan ketenangan ke hati ibu Musa. Ya, memang kata-kata itu spesial diilhamkan langsung oleh Allah SWT. Tapi percayalah, akhi, ukhti. Kata-kata ini tetap akan memiliki kekuatan yang menenangkan bagi sang ibu saat kata-kata ini terucap langsung oleh kita, sang buah hatinya, seolah kata-kata itu diilhamkan langsung juga oleh Allah SWT ke dalam hati ibu kita. Insya Allah.
Sumber: Mahamahu

Subhanallah, begitu indah Islam mengajarkan kita untuk memuliakan sang Ibu. Bahkan Allah SWT pun langsung memberikan contoh bagaimana Ia begitu peduli dengan cinta ibu kepada anaknya.

Radhitubillahi Rabba, Yaa Allah..
[...]

Categories:
Comments

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu 'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Yo, sobat.. Ada yang suka hiking di antara kalian? :)
Sumber: rizkipradana
Hiking atau mendaki gunung, bagi sebagian orang mungkin cuma aktifitas yang nguras tenaga dan buang-buang waktu doank.
"Naek tangga aja pegel. Apa lagi naik gunung? Kalo ada lift di gunung, baru dah gw mau ikut hiking.. huahaha". - seseorang
Ya, mungkin itu yang terpikirkan oleh sebagian dari kita. Tapi ga begitu loh bagi sebagian orang lainnya, yakni bagi orang yang percaya bahwa di akhir pendakiannya akan ada keindahan yang menyambutnya dan membuat semua kelelahannya terbayarkan. :)
Sumber: gunnisoncrestedbutte

Nah, ngomong-ngomong soal hiking nih, ternyata Al-Qur'an menjadikannya sebagai perumpamaan juga loh, tepatnya di Surat Al-Balad ayat 11-18. Yuk sama-sama kita kaji.
"Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar? Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir." [Al-Balad: 11-16]
Pendakian, dalam Surat Al-Balad ayat 11-16, dijadikan perumpamaan untuk amal-amal sholeh, yakni melepaskan budak dari perbudakan dan memberi makan kepada yatim dan fakir miskin. Ya, amal sholeh ini seperti hiking atau pendakian. Terasa berat bagi sebagian orang. Tidak, mungkin bukan hanya bagi sebagian orang saja. Sepertinya memang berat bagi semua orang. Sama kaya hiking, bagi pecinta hiking sekalipun, yang namanya hiking tetap saja berat. Ya kan?

Nah, tapi Allah memberikan tips dan triknya nih untuk menjalani pendakian ini di ayat selanjutnya,
"Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang" [Al-Balad: 17]
Allah memberikan kisi-kisi bahwasanya orang yang mampu menjalani pendakian ini hanyalah orang-orang yang memiliki iman, memiliki suatu keyakinan. Artinya apa? Ya, sama kaya hiking lagi. Yang mampu membebaskan budak serta memberi makan yatim dan fakir miskin hanyalah orang-orang yang percaya bahwa ada keindahan yang akan menyambutnya di akhir pendakiannya ini, yaitu Surga. Insya Allah. Bagi yang tidak percaya dengan adanya hari pembalasan, jelas dia tidak akan mau bahkan tidak akan mampu untuk menjalani pendakian ini.

Kemudian Allah juga memberikan tips dalam pendakian ini, yakni pentingnya sebuah ukhuwah. Persaudaraan, saling berpesan untuk bersabar dan berkasih sayang. Lagi-lagi sama kaya hiking, sebaiknya kita mendaki ga sendirian. Tapi bersama-sama dengan pendaki lainnya. Sehingga selama pendakian, kita bisa saling menyemangati (bersabar), bahkan bergantian merangkul sahabat pendakian yang kelelahan atau sedang terluka (berkasih-sayang). Begitu indahnya ukhuwah yang diajarkan Allah SWT. Bukan ukhuwah dalam kebathilan, tapi ukhuwah dalam amal sholeh, yakni membebaskan budak dan memberi makan yatim dan fakir miskin. Subhanallah.
"Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan." [Al-Balad: 18]
Para pendaki amal sholeh inilah yang Allah golongkan sebagai golongan kanan. Yang dalam Surat Al-Waqiah, mereka dijamin surga berisi kebun dan bidadari oleh Allah SWT.

Radhitu Billahi Rabba, Yaa Allah.. :')
[...]

Categories:
Comments

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu 'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu.

Kok bicara tentang "nikah" melulu?

Akhi dan Ukhti..

Setelah baca judul postingan ini, antum pasti tau arah pembahasan ayat kali ini ke arah mana? :) Ya, masih tentang munakahat..

Maaf sebelumnya ya kalau pembahasan ayat yang ane angkat masih aja seputar munakahat. Ane sadar sebenernya masih banyak amanat dakwah selain membicarakan tentang "nikah" melulu seperti ini. Walaupun begitu, ane tetep yakin dakwah mengenai ini akan memiliki dampak yang cukup besar ke amanat-amanat dakwah lainnya..

Ko bisa? Ya, bisa.. Kalo kita bicara tentang munakahat, artinya kita bicara tentang pembentukan suatu keluarga yang akan menjadi madrasah utama manusia dalam mengenal kehidupan.
sumber: kabarnet

Ane pernah berbincang dengan salah seorang relawan pengelola Sekolah Gratis Masjid Terminal Depok, beliau menceritakan bahwasanya anak-anak jalanan yang bersekolah di sana sebenarnya bukanlah anak-anak yang berlatarbelakang tidak mampu dalam finansial. Anak-anak jalanan ini memutuskan berkutat di jalanan bukan karena uang. Tapi untuk pelarian dari masalah-masalah dalam keluarganya. Ya, sebagian besar dari mereka ternyata berlatarbelakang keluarga yang "broken-home".

Nah, antum ud nangkep permasalahannya apa di sini? Ya, keluarga. Itu yang dirindukan oleh anak-anak jalanan. Walaupun ia mencari pelarian dari masalah keluarganya di jalanan, kebersamaan dan bimbingan yang ia terima di sana jelas berbeda andaikan kebersamaan dan bimbingan itu datang dari keluarganya sendiri. Kebutuhan mental mereka tidak terpenuhi saat keluarga tidak berhasil memegang peranannya.

Keluarga itu ga sesederhana: Ayah kerja, ibu masak, anak sekolah. Ga. Ga seperti itu. Keluarga itu mengandung banyak peranan. Dan peranan yang paling utamanya itu adalah menjaga keistiqamahan. Keluarga yang bisa menjaga semangat tiap anggotanya dengan kasih-sayangnya. Keluarga yang bisa menjaga kebersamaan tiap anggotanya dengan ketentramannya. Keluarga yang bisa menjaga nilai-nilai moral yang tertanam dalam pribadi tiap anggotanya dengan bimbingan hikmahnya. Karena selain keluarga, ga ada yang bisa menelisik personal seseorang jauh lebih dalam.

Dengan kata lain, keluarga itu sebenernya adalah medan dakwah yang utama. Saat setiap keluarga berhasil memegang peranan dakwahnya ini, insya Allah dakwah dalam tingkat masyarakat pun akan lebih mudah. Karena dunia yang penuh keberkahan hanya bisa tercapai jika masyarakatnya menjunjung tinggi ajaran islam. Dan masyarakat yang menjunjung tinggi ajaran islam itu berawal dari keluarga yang kesehariannya dipenuhi dengan nilai-nilai keindahan akhlak islami.

Pengkajian Ayat: Pasangan Hidup

Saat kita bicara tentang pembentukan keluarga yang bisa memegang peranan dakwah dalam keluarganya sendiri, maka sorotan utama kita akan menuju dua sosok yang akan memegang peranan utamanya, yaitu Ayah dan Ibu.

Dari perspektif anak, mereka memang Ayah dan Ibu. Tapi keluarga bukan sekedar hubungan anak dengan orang tuanya saja. Bukan hanya tentang Ayah dengan anaknya atau Ibu dengan anaknya. Tapi ini juga tentang hubungan antara sang Ayah dengan sang Ibu. Baik hubungan interpersonalnya (Suami-Istri) ataupun hubungan ketika mereka hadir bersama di depan anak-anak (Ayah-Ibu).

Dua peranan ganda yang dipegang sang Suami dan sang Istri ini tentunya bukan suatu hal yang main-main. Suami-Istri ga sesederhana gebetan, pacaran, tunangan, HTS, atau apapun itu yang mengatasnamakan komitmen yang sebenarnya semu belaka. Suami-Istri itu pasangan hidup. Bukan sekedar menjalani hidup bersama, tapi juga memenuhi tanggung jawab bersama. Perlu adanya suatu chemistry yang membuat keduanya bisa klop untuk bekerja sama sesuai peranannya masing-masing

Nah, kaya gimana sih chemistry antara Suami-Istri itu menurut tuntunan Al-Qur'an? Cek ayat berikut ini,
“Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu dari jiwa kalian sendiri pasangan hidup, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar-Rum 21].
Nah inilah alur chemistry pasangan hidup yang dituntun oleh Al-Qur'an. Ada beberapa kata kunci di sini:

Satu jiwa. Min anfusikum. Dari jiwa kalian sendiri. Artinya, hal pertama yang harus dimiliki oleh suami istri adalah satu jiwa, soulmate, kesesuaian jiwa. BJ Habibie menyebutnya sebagai Manunggal. Semacam ada telepati di antara mereka dalam berkomunikasi. Satu jiwa ini yang membuat suami istri bisa klop meskipun belum pernah bertemu sebelumnya. Ya, kesejiwaan ini semacam kode dalam diri kita. Bisa itu berupa kesamaan visi, kesamaan komitmen, ataupun kesamaan dalam bentuk lain yang tidak bisa disadari oleh manusia. Dalam Islam, kesejiwaan yang paling utama itu adalah kesamaan komitmen kepada Allah dan agama.

Pasangan hidup. Azwaajan. Tepat setelah menyebut satu jiwa, Al-Qur'an langsung mengatakan bahwa merekalah pasangan hidup. Suami istri. Dengan begini Al-Qur'an mengajarkan bahwa pasangan hidupmu yang sebenarnya adalah pasti dari jiwa yang sama. Mengenai ini, kita biasanya dihadapkan dua hal. Menikahi orang yang kita cintai atau mencintai orang yang kita nikahi. Yang pertama cuma sebuah kemungkinan. Tapi yang kedua merupakan sebuah keharusan. Ketika kita sudah memutuskan berkomitmen bersama dengan seseorang, maka dialah pasangan hidup kita. Jadikan ia belahan jiwa kita. Jangan biarkan cintamu yang belum halal kepada orang sebelumnya menjadi penghalang jiwamu untuk bersatu dengan jiwa pasangan hidupmu saat ini.

Supaya kamu merasa tenteram kepadanya. Litaskunuu ilayha. Sakinah. Tepat setelah pasangan hidup yang sejiwa ini bersatu, Al-Qur'an langsung menjamin ketenteraman akan menyelimuti rumah tangga mereka. Jika rumah tangga tidak tenteram, maka itu mengindikasikan mungkin mereka tidak memulainya dengan kesejiwaan atau belum mau membuka hati untuk menyatukan jiwa mereka, menyatukan komitmen mereka. Sakinah ini selayaknya menjadikan pernikahan sebagai penyempurna separuh agama seseorang. Karenanya seseorang menjadi tenteram dengan adanya penyaluran yang halal dan baik untuk syahwatnya, dan tenang dengan adanya sahabat sejiwa yang akan terus memberikan semangat dan dukungan dalam setiap perjuangannya..

Mawaddah. Apa itu mawaddah? Dalam Qur'an terjemahan Departemen Agama, mawaddah diartikan sebagai kasih. Tapi sebenarnya mawaddah ini artinya cukup spesifik. Mungkin dalam bahasa inggris dan bahasa indonesia hanya dikenal kata love dan cinta. Tapi dalam bahasa arab, ada banyak kosakata spesifik yang menggambarkan kata cinta. Salah satunya mawaddah. Mawaddah ini adalah ekspresi cinta yang meliputi batin dan lahir juga, dari yang sifatnya sangat emosional romantis hingga yang sifatnya sangat syahwat biologis. Inilah mawaddah. Dalam ayat ini, mawaddah dianggap sebagai akibat, bukan sebab. Jika pasangan hidup itu sejiwa, maka akan tumbuh di dalamnya mawaddah. Itu alur yang diajarkan Qur'an. Jangan tertukar. Sering kali kita beranggapan, harus cinta (mawaddah) dulu baru pasangan tersebut akan cocok. Bahkan ada yang sebelum menikah sudah menikmati mawaddah yang biologis. Na'udzubillah. Jika seperti ini, maka alurnya akan kacau. Mungkin pasangan ini akan memiliki mawaddah, tapi belum tentu ada sakinah di dalamnya.

Rahmah. Ini juga salah satu kosa kata cinta dalam bahasa arab. Cinta yang seperti apa? Jika diibaratkan, Rahmah itu seperti cinta seorang ibu kepada anaknya. Tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi. Tak harap kembali. Rahmah itu memberi, bukan menerima. Rahmah itu berkorban, bukan menuntut. Rahmah itu berinisiatif, bukan menunggu. Rahmah itu bersedia, bukan berharap-harap.

Nah itulah alur chemistry pasangan hidup yang dijelaskan Allah SWT dalam Al-Qur'an Al-Karim.

Satu Jiwa, Menikah, Sakinah => Maka akan tumbuh Mawaddah dan Rahmah.
Inilah pasangan hidup yang barakah.

Jangan tertukar.
Jika kita mengawalinya dengan mawaddah => hanya akan berujung pada kemaksiatan.
Jika kita mengawalinya dengan rahmah => hanya akan berujung pada cinta yang bertepuk sebelah tangan. *ea, galau-galau dah.. hha*

Awali pernikahan dengan kesejiwaan dan ketenteraman.. Maka Allah akan menanamkan mawaddah dan rahmah didalamnya. Insya Allah. :)

Wallahu a'lam.
Billahilhidayah wat taufiq.
Wassalamu 'alaykum warahmatullahi wabarakatuhu.
[...]

Comments

“Seandainya kalian mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, sungguh mereka akan menyesatkan kalian dari jalan Allah (Qs:al An’aam:116)

Salahkah aku jika tidak mengikuti kebanyakan orang
Dimana kebanyakan mereka mendaki gunung emas
Tak terlihat baginya puncak bertepi
Sehingga ia lupa harus kembali menapaki kerendahan


“..akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur” (Qs Al Baqoroh:243)

Salahkah jika aku tidak mengikuti kebanyakan orang
dimana mereka berpakaian title dan pangkat
sebagai hasil pembelajaran di lembaga ikhtilath
sehingga ia lupa bahwa titel terakhirnya alm.


“…akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Qs.Al A’raf:187)

Salahkah aku jika tidak mengikuti kebanyakan orang
dimana mereka berkulit intan permata
bermahkota lembaran sutra polesan
menepis malu dengan alasan masa muda
sehingga ia lupa dengan kehormatannya


“.. dan sesungguhnya kebanyakan manusia itu lengah terhadap tanda tanda kekuasan Kami” (Qs.Yunus:92)

Salahkah jika aku tidak mengikuti kebanyakan orang
dimana ukuran kebenaran dimata mereka
Adalah mayoritas manusia
berpangkal adat nenek moyang
berujung peremehan sunnah Nabi


“ dan sesungguhnya Kami telah mengulang ulang kepada manusia didalam Al-Quran ini setiap macam perumpamaan, tetapi kebanyakan manusia tidak menyukai selain mengingkari”
 (Qs.Al Isra’:89)

Salahkah jika aku tidak mengikuti kebanyakan orang
dimana ukuran kesuksesan dimata mereka
Adalah penguasaan teknologi mutakhir
tersibukkan dengan tuntutan zaman
terlupakan dengan tuntutan akhir zaman


“ Dan sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar benar ingkar akan pertemuan dengan Rabb-nya. (Qs.Ar Ruum:8)

Salahkah jika aku tidak mengikuti kebanyakan orang

“ ..akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman”. (Qs.Hud:17)
“..Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan..” (QS.Yunus:36)
“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” ( Al-An’am [6]: 116)
“..dan sesungguhnya kebanyakan manusia itu benar benar fasiq” (Qs.Al Maa’idah:49)

 Salahkah jika aku mengikuti golongan yang sedikit
Salahkah jika aku mencintai golongan yang sedikit
Dan salahkah aku jika berharap menjadi golongan yang sedikit?


“ Sedikit sekali dari hamba-Ku yang bersyukur.” (Qs.Saba’:13)
“ ..Sedikit sekali kalian beriman kepadanya. (Qs.Al Haaqqah:41)
 “..Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran” (Qs.Al A’raf:3)
 “…Dan tidak beriman kepada Nuh itu kecuali sedikit saja.” (Huud [11]: 40)
 “…Tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit.” (Al-Kahfi [18]: 22)
“…Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan amat sedikitlah mereka ini.” (Shaad [38]: 24)
"Dan orang yang paling dahulu, yang paling dahulu. Mereka itulah “muqarrabun” (orang yang didekatkan).Di dalam Syurga Na’im (kenikmatan). Segolongan besar daripada orang yang terdahulu. Dan segolongan kecil daripada orang yang kemudian. (Al-Waqiah: 10-14)

 “Seandainya kalian mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, sungguh mereka akan menyesatkan kalian dari jalan Allah “(Qs:al An’aam:116)

[Courtesy of: lovesunnahnobidaah]
[...]

Comments

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu 'alaykum warahmatullahi wabarakatuhu..
===================================================
Sahabat..

Masihkah dirimu ragu tentang apa arti kehidupan ini?
Tapi, kenapa di tengah ragu ini,,
kau masih terus menyibukkan diri dengan kehidupan?
Tersenyum dan menangis pada kesemuan..

Layaknya suatu perjalanan..
Kita lupa darimana kita berangkat..
Dan kemana kita menuju..
Sadar kita tengah tersesat..
Tapi masih saja terbuai dengan semu..

Cobalah untuk berhenti sejenak, Sahabat..
Dan renungi perjalanan yang kau lalui ini..
Resapi sekelilingmu..
Maka kau akan menemui sesuatu..
Bahwa ternyata begitu banyak petunjuk untuk arah perjalananmu ini..

Kau hanya butuh membuka matamu..
Dan memberanikan kakimu untuk melangkah mengikutinya..
===================================================



===================================================
Haa Miim. Diturunkannya al-kitab ini dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi benar-benar merupakan ayat (bukti) bagi orang-orang yang beriman. Dan dalam penciptaan dirimu sendiri dan makhluk melata yang bertebaran merupakan ayat (bukti) bagi kaum yang yakin. Dan pergantian malam dan siang dan apapun yang Allah turunkan dari langit berupa rezki, maka hiduplah dengannya bumi setelah matinya dan perkisaran angin merupakan ayat (bukti) bagi kaum yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan haq, maka dengan perkataaan mana lagi setelah Allah dan ayat-ayatNya mereka akan beriman.
(Q.S al Jatsiyah 1-6)
===================================================


[...]

Comments

Bismillahirrahmanirrahim..
Assalamu 'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu..

Untuk sebulan kedepan, yuk sama-sama kita mencoba mengkaji, menghapal, dan mengamalkan salah satu Surat yang sangat menyentuh dalam Qur'an.. Surat Al-Fajr..

Kebetulan Surat ini berjumlah 30 Ayat, jadi pas sebulan nih kalo kita mau mencoba mengkaji, menghapal, dan mengamalkannya "One Day One Ayat".. :)

Sebelum kita memulai membahasnya, kita dengerin dan simak sama-sama dulu video pembacaannya oleh Mishary Alafasy Rashid diikuti latar ilustrasi kandungan ayat yang bener-bener menyentuh batin kita..




[...]

Categories:
Comments

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu 'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Yo, sobat..

Hari ini ane akan mengkaji surat Al-Baqarah ayat 235 tentang melamar istri *ea.. galau mahasiswa tahun terakhir*, yang kira-kira terjemahannya seperti ini:
“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepadaNya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”(Al-Baqarah: 235).
Kenapa mengkaji ayat ini?
Sumber: cantiksdansholehah
Ane tertarik mengkaji ayat ini setelah berbincang2 dengan salah seorang sahabat terdekat ane yang lagi galau tentang seorang akhwat yang ia incar jadi istrinya.. Kami mengerti dan sepakat bahwa dalam islam, tidak ada komitmen sebelum pernikahan.. Tapi ada hal yang menarik perhatiannya.. Kira2 begini pertanyaannya:
Zul, aku bingung nih.. Kok senior2 kita banyak yang ga pacaran tapi pas lulus tuh udah kaya punya calon istri gitu di kota asalnya ya.. Seolah2 para cewe itu punya kontak batin dan mau setia menunggu pinangan sang cowo itu walaupun belum pernah terucap janji sekalipun.. Emangnya gimana sih caranya mastiin sang akhwat itu cuma menunggu pinangan kita seorang?
Hmm.. Ane juga sebenernya ga tau persis resep rahasia para senior ini.. Tapi ya ane ngerti permasalahan yang antum galauin, akh.. Ini semacem kegalauan yang wajar bagi para ikhwan yang sudah menemukan akhwat dengan kriteria istri idaman baginya, namun masih membutuhkan waktu beberapa bulan atau beberapa tahun lagi sebelum mengajukan pinangannya karena satu dan lain hal.. *ceritanya takut disalip orang duluan gitu.. ckckck..*

Nah, malam harinya setelah perbincangan kami ini, ane baru teringat tentang ayat ini.. Walaupun sebenernya kalau kita baca ayat sebelumnya juga, ayat ini memang khusus ngebahas tentang melamar janda yang sedang di masa iddahnya aja.. *ini bukan pertanda ane mau ngelamar janda ya.. catet!! hha..*.. Tapi kalo direnungi, kayanya sih pas-pas aja buat jadi pedoman untuk melamar gadis juga.. Namanya juga ijtihad, asalkan berpegang ke quran n hadits, kalo bener dapet 10 pahala, kalo salah dapet 1 pahala.. Hhe, bismillah aja lah.. Semoga kajian kali ini bisa pas menjawab solusi kegalauan para ikhwan.. Afwan kalo ada yang salah..

Sepakat?

Sebelum kita masuk ke pembahasan kaitan ayat dengan permasalahan kegalauan ini, kita harus sepakatin beberapa hal dulu nih..

Pertama-tama, kita sepakatin dulu, kalo pacaran sebelum nikah itu haram.. Fix, ga bisa diganggu gugat.. Jadi pacaran itu bukan solusi masalah galau kaya gini..

Kedua-dua, tunangan atau lamaran atau pinangan atau khitbah atau istilah2 apapun itu yang intinya "mengutarakan maksud untuk menikahinya" itu sebaiknya ga dijeda dengan waktu pelaksanaan akad nikah yang terlalu lama.. misal kita melamarnya tahun 2009, tahun 2014 baru direncanain akad.. *ini mau nikah apa mau pemilu presiden sih..? hha* Nah, yang kaya gini baiknya dihindarin, sobat..

Kenapa ga boleh lama-lama? Sebab jarak yang lama antara khitbah dan nikah dapat menimbulkan keraguan mengenai keseriusan kedua pihak yang akan menikah, juga keraguan apakah keduanya dapat terus menjaga diri dari kemaksiatan seperti khalwat dan sebagainya. Keraguan semacam ini sudah sepatutnya dihilangkan sesuai sabda Rasulullah saw dibawah ini:
”Tinggalkan apa yang meragukanmu, menuju apa yang tidak meragukanmu.” (HR Tirmidzi & Ahmad).
Jadi kita sepakatin ya, "mengkhitbah atau melamar secepatnya untuk akad nikah yang masih lama" itu juga bukan solusi kegalauan ini.. *emangnya nikah kaya tiket, bisa dibooking jauh2 hari*

Ketiga-tiga, *ini kenapa keterusan ngikutin pola pertama-tama* mungkin kita akan berpikir,
 "Ya gampang aja donk, kalo misalkan target kita dilamar orang duluan, ya kita tinggal bilang ke dia untuk nolak lamaran orang itu karena kita juga punya niatan untuk melamar dia juga nanti.. selesai kan urusannya" -seseorang
Jiah, pemikiran kaya gini nih yang harus dibuang jauh-jauh, sobat.. Kenapa? Karena Rasulullah SAW terang-terangan melarang kita melamar gadis yang sudah dilamar orang lain duluan.. Kira-kira begini bunyi haditsnya,
“Janganlah seseorang meminang pinangan saudaranya sehingga peminang itu meninggalkannya atau mengizinkannya.” (HR Bukhari)
Dan salah kita juga kenapa bisa ampe kesalip duluan ama orang lain.. Dulu nunda-nunda ngelamar, giliran ada yang nyalip, baru mau ngelamar.. Ini namanya ga berani berkomitmen lebih awal sama niatan kita sendiri.. Tapi kalo kasusnya kita emang ga berdaya untuk melamar, ya ikhlasin lillahi ta'ala aja klo dia dilamar orang lain duluan.. Insya Allah berarti Allah menyiapkan calon yang lebih baik lagi jika sudah tiba saatnya kita tidak menunda-nunda pernikahan.. :)

Ok, jadi kita sepakatin ya, "baru berani melamar setelah ada orang lain yang melamar duluan" itu juga bukan solusi kegalauan ini..

Nah, kalo ud sepakat dengan ketiga hal tersebut, baru dah kita mulai pembahasan kajian ayatnya..

Kajian Ayat

Sebelum *lagi-lagi ketemu kata sebelum.. -__- kapan to the point-nya? hha,, sabar ya* kita mulai membahas kaitan ayatnya dengan permasalahan galau melamar gadis, kita coba kaji dulu makna sebenernya ayat ini ya..

Seperti yang disebutin sebelumnya, ayat ini sebenernya ngebahas tentang aturan penangguhan pernikahan bagi janda yang masih dalam masa 'iddah-nya.

Apa itu 'iddah?

'iddah itu secara istilah artinya masa dimana wanita yang baru saja diceraikan atau ditinggal mati oleh suaminya harus menangguhkan rencana pernikahannya dengan laki-laki lain sampai waktu tertentu. *nah, istilah 'iddah ini nanti ada kaitannya ama pembahasan galau ngelamar gadis*

Lamanya masa 'iddah? Lamanya masa 'iddah berbeda-beda tergantung kondisinya..

Untuk wanita yang ditalaq suaminya ,masa 'iddah-nya 3 kali haidh..
"Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhirat." (Al-Baqarah: 228).
Untuk wanita yang ditinggal mati suami, masa 'iddah-nya 4 bulan 10 hari
Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari.”(Al-Baqarah: 234).. 
Untuk wanita yang lagi hamil, masa 'iddah-nya sampai ia melahirkan anak di kandungannya
”Dan wanita-wanita yang hamil, waktu iddah mereka itu adalah sampai mereka melahirkan kandungannya.”(Ath-Thalaq: 4)
Dan untuk wanita yang belum sempat dicampuri oleh suaminya, maka tidak ada masa 'iddah baginya
”Hai orang-orang yang beriman, ’apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya, maka sekali-kali tidak wajib atas mereka iddah bagimu yang kamu minta, menyempurnakannya.”(Al-Ahzab: 49)
Intisari ayat

Potongan ayat yang menyebutkan,
“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka.."
Jadi ayat ini tuh memberikan toleransi kepada para lelaki yang memiliki niat menikahi janda yang masih dalam masa 'iddah-nya.. Laki-laki tersebut boleh menyampaikan niatannya secara tersirat atau dengan sindiran kepada sang janda.. Contoh, ia mengutus seseorang untuk menyampaikan kepada sang janda, "tolong beri kabar kepada kami jika masa 'iddah-mu telah usai.."..

Sang janda tentunya akan menangkap sinyal ini sebagai pertanda bahwa ada yang berniat menikahinya seusai masa 'iddah-nya habis.. Namun karena disampaikannya tidak secara blak-blakan, sang janda juga ga mau terlalu yakin.. Takutnya ia cuma kegeeran.. *ea.. ini janda ko malah jadi kaya ABG (Anak Baru Galau).. hha*


Lalu di potongan ayat selanjutnya, Allah berfirman,
"dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. "
Ini mempertegas bahwa selama masa 'iddah-nya belum habis, kita tidak boleh secara blak-blakan mengungkapkan maksud hendak menikah kepada sang janda, apalagi sampai janjian secara rahasia dengan janda tersebut.. Ini rawan terjadi karena kemudahan akses komunikasi pada zaman sekarang (seperti facebook, twitter, BB, dan pager.. *eh? pager?*)..

Nah, tujuan kenapa disampaikannya harus secara tersirat dan ga boleh blak-blakan ini tuh untuk menghindari kemungkinan sang janda berbohong tentang masa 'iddah-nya karena ingin segera dinikahi..

Kemudian Allah melengkapi firmannya di potongan ayat selanjutnya,
"Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepadaNya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”
Jadi, selama masa 'iddah-nya belum habis, Allah mempertegas larangan-Nya agar tidak terlintas di hati kita sedikit pun untuk menikahi Sang Janda sebelum masa 'iddah-nya benar-benar habis.. Dan Allah memperingati kita bahwasanya Ia Maha Mengetahui apa-apa yang ada di dalam hati kita.. So, jangan sekali-kali terlintas untuk melanggar larangan-Nya ini deh.. Kalo sempet terlintas, ya buru-buru taubat.. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun.. :)


Kaitan ayat ini dengan galau ngelamar gadis?

Alhamdulillah, akhirnya nyampe juga ke bagian utamanya.. :D *kepanjangan prolognya ya? hha* Sorry ya kalo berbelit-belit.. Tapi memang harus begitu skemanya, biar bahasnya ga setengah-setengah dan ga berpotensi menuai kontroversi..

Lamaran Tertunda karena Halangan dari Pihak Wanita

Oke, begini.. Tadi udah dijelasin kan tentang apa itu 'iddah? Nah, dalam kasus ini kita akan analogi-in istilah 'iddah itu sebagai "sesuatu hal yang menghalangi sang wanita untuk segera menikah".. Gimana? Sepakat ga? Ga terlalu jauh ko ama makna aslinya.. :)

Nah dalam kasus galau ini, misalkan kita udah punya target yang mau kita lamar, tapi setelah dateng ke orang tua-nya, ternyata orang tua-nya mengharapkan sang putri-nya ini untuk lulus kuliah terlebih dahulu, yaa kira2 4 tahun lagi laah.. *jiah.. itu mah baru mulai kuliah namanya.. :v hha*.. Nah, kita bisa menganggap sang putri ini "seolah-olah" sedang di masa 'iddah-nya.. Ya, 'iddah-nya ini bukan karena abis ditalaq atau ditinggal mati suami, tapi halangan dari hal lain, dalam kasus ini: harus menyelesaikan studi dulu..

*Sebenernya mungkin ga boleh kita campur adukin istilah kaya gini.. Makanya kita cuma anggep "seolah-olah" ini tuh 'iddah juga.. bukan 'iddah dalam arti yang sebenernya.. Jadi bagi yang mau protes masalah ini, tolong dimaklumi aja ya.. :)*

Nah, 4 tahun kan lama tuh.. Tapi dalam hati kita, kita masih punya keinginan untuk menikahinya dan ada kekhawatiran sang putri direbut orang selama 4 tahun masa 'iddah tersebut.. Nah, *kebanyakan ngomong "nah" nih.. :v* ga usah galau masalah ini sobat.. Karena sebenernya kita bisa berpegang pada ayat Al-Baqarah: 235 untuk menjawab persoalan ini..
“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka.."

Jadi, untuk memberi sinyal kepada sang putri bahwa kita masih setia menyimpan niatan kita untuk menikahinya, kita cukup dengan menyindir sang putri tersebut.. Cewe itu sensitif, disindir gitu mereka bisa langsung nangkap maksudnya kok.. *Asal nyindirnya pake bahasa yang cewe itu mengerti.. Tidak disarankan menyindir dengan menggunakan bahasa sansekerta.. catet!*

Nih ane kasih contoh cara nyindirnya..

A: "Neng.."
N: "Ya, bang.."
A: "Abang punya pantun nih buat neng.."
N: "Apa tuh, bang..?"
A: "Ada ikan mati kelelep.."
N: "Lah ikan apaan bang yang mati kelelep..? Ikan mah emang idup di aer, bang.."
A: "Lah bener donk.. Ikan kan mati tetep di aer, jadi abis mati dia kelelep..
      Masa iya sebelum mati dia sempet loncat dulu ke darat..?
      Udeeh, dengerin dulu aja.."
N: "Hhe.. Bisa aja si Abang.. Sok atuh lanjutin.."     
A: "Ada ikan mati kelelep..
      Dikuburnya pake peti mati..
      Bukan maksud Abang ngarep..
      Walau 4 tahun lagi, Abang rela ko menanti.."
N: "Uhh.. So Sweet.." *melting..*
A: "Dih.. Emang rela menanti apa yang Neng kira?"
N: "Rela menanti Neng lulus dulu kan, Bang?"
A: "Yee, geer.. Maksud Abang tuh, rela menanti piala dunia ditayangin di TV 4 tahun lagi..
      Hha.. Kabuur"
N: "Abang!!" *timpuk sendal*


Hahaha, kira2 begitu taktik nyindirnya.. Cukup jelas, tapi tidak secara blak-blakan mengungkapkannya.. *tapi jangan ditiru secara mentah-mentah ya.. Karena ane terlalu lebay mengilustrasikan kedekatan dua non-mahram dalam contoh tadi*

Sang putri dengan emosionalnya akan menangkap maksud dari sindiran ini.. Walaupun kita sempet mengemas sindiran tersebut seolah-olah cuma candaan, tapi Sang putri akan terus mengingat sindiran tersebut.. Dan dapat dipastikan ia akan setia menunggu pinangan kita seorang sampai masa 'iddah-nya usai (dalam kasus ini: menyelesaikan studi)..

Tapi yang perlu kita pahami, sindiran ini tidak berarti komitmen apapun bagi kedua belah pihak.. Karena sindiran ini tidak harus dijawab oleh pihak wanita.. Sehingga tidak bisa dikatakan sebagai kesepakatan atau janji pernikahan.. Sebagaimana disebutkan di lanjutan ayatnya,
"Dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf."
Seperti yang kita sepakati bersama di awal bahwa melamar sebaiknya tidak dijeda waktu yang terlalu lama dengan hari akad pernikahan.. Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak menyindir secara berlebihan yang akan berkesan seperti janji yang sungguh-sungguh.. Tapi cukup dengan menyampaikan maksud secara tersirat dan akan lebih baik jika disampaikannya dengan perkataan yang ma'ruf..

Nah, jika pada akhirnya sang Putri lebih memilih pinangan orang lain ketika masa 'iddah nya habis ketimbang kita, maka itu adalah haknya.. Terasa tidak fair sih.. Itulah kenapa Allah melanjutkan firman-Nya dalam ayat ini,
"Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis iddahnya.”
Allah mewanti-wanti kita supaya jangan terlalu bertekad atau terlalu yakin untuk menikahi sang putri yang masih dalam masa 'iddah tersebut.. Ini dengan tujuan agar kita tidak terlalu kecewa jika ternyata kenyataan setelah masa 'iddah itu habis tidak sesuai dengan harapan kita.. Pelihara niatan menikah kita ini tetep suci lillahi ta'ala.. Jangan berlebihan dalam berharap tentang hal-hal duniawi.. Insya Allah semua akan indah pada saatnya..

Satu lagi yang harus kita camkan baik-baik adalah, JANGAN MAIN-MAIN DENGAN SINDIRAN TENTANG HAL INI.. Jangan sampai kita menyindirnya cuma untuk main-main tanpa niatan serius menikahinya.. Ini bisa mengzhalimi pihak wanita.. Jangan sampai kita membuatnya menunggu dalam penantian yang tak berujung karena "sindiran kosong" kita ini.. Sebagaimana Allah berfirman melengkapi ayat ini,
"Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepadaNya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun..."
Allah Maha Mengetahui isi hati kita, jadi jika kita berniat mempermainkan wanita dengan sindiran kosong ini, maka segeralah bertaubat dan urungkan niatan kita itu.. Jika sudah terlanjur melemparkan sindiran kosong tersebut, maka sebaiknya segera memberikan klarifikasi kepada pihak wanita agar tidak terjadi kesalahpahaman..

Wallahu a'lam..

Nah, itu kasusnya kalo halangan lamarannya berasal dari pihak wanita.. Lalu bagaimana kalo halangannya berasal dari pihak pria itu sendiri?


Lamaran Tertunda Karena Halangan dari Pihak Pria

Berbeda kasusnya dengan halangan dari pihak wanita yang bisa dianalogikan sebagai 'iddah, halangan dari pihak pria ini tidak bisa dianalogikan sebagai 'iddah.. Karena 'iddah hanya berlaku bagi pihak wanita saja.. Jadi, apakah kita bisa berpegang pada ayat Al-Baqarah: 235 ini saat yang berhalangan adalah pihak pria? jawabannya tidak..

Dibandingkan berpegang pada ayat ini, sesungguhnya untuk kasus halangan dari pihak pria, maka hadits berikut ini lebih pas untuk diterapkan,
Rasulullah SAW. bersabda, “Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhori-Muslim)
Halangan dari pihak pria untuk menyegerakan menikah itu dapat dijadikan parameter ke-belum-mampu-an sang pemuda untuk menikah.. Oleh karenanya, dalam kasus ini, sebaiknya pihak pria berpuasa atau menahan dirinya dari upaya pendekatan dengan sang Putri..

Bersabarlah hingga benar-benar sudah tidak ada halangan dari diri kita pribadi, baru setelah itu kita melakukan pendekatan dan melamar sang Putri.. Ini dilakukan agar kita tidak "menggantung" sang Putri dalam penantian yang tidak pasti karena halangan dari diri kita..

Jika kita khawatir sang Putri tersebut direbut oleh orang lain, maka ikhlaskan lillahi ta'ala saja.. Karena pada dasarnya sang Putri memang belum menjadi hak kita.. Dan sudah menjadi hak sang Putri itu sendiri untuk menikah saat ia menilai tidak ada lagi baginya alasan apapun untuk menunda pernikahan..

Oleh karena itu, ane menyarankan kita benar-benar menimbang apakah alasan atau halangan dari diri kita untuk menunda pernikahan itu adalah benar-benar suatu hal yang fundamental dan tidak bisa ditoleransi atau hanya hal kecil yang sesungguhnya masih bisa dijalani sekalipun kita menikah..

Contoh,, kita ingin langsung lanjut studi kuliah S2 begitu lulus S1.. Dan kita menganggap kuliah S2 ini sebagai alasan untuk menunda pernikahan.. Nah, pemikiran yang kaya gini yang harus kita evaluasi, sobat.. Kenapa kita berpikir kuliah S2 sebagai alasan untuk menunda pernikahan? Apakah kita berpikir pernikahan hanya akan  memecah konsentrasi studi S2 kita? Coba lihat teman-teman mahasiswa S2 kita, bukankah kebanyakan dari mereka adalah bapak-bapak yang telah berkeluarga? Lalu kenapa kita berpikir mereka mampu lanjut studi sambil berkeluarga sedangkan diri kita sendiri tidak mampu?

Tapi ane ga memaksakan pandangan pribadi di sini.. Semua persoalan ini kembali ke pertimbangan kita masing-masing.. Ane hanya mencoba menyampaikan agar kita berhati-hati, jangan sampai kita menyesal kehilangan calon istri idaman kita hanya karena suatu halangan semu..

Wallahu a'lam..

Yap, sekian yang bisa ane sampaikan.. Mohon dikoreksi bila ada kesalahan.. Kesempurnaan hanya milik Allah, dan kekurangan berasal dari kesalahan dan kelalaian ane pribadi..

Alhamdulillah..
Wabillahil hidayah wat taufiq..
Wassalamu 'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu
[...]

Comments

Bismillahirrahmanirrahim..
Assalamu 'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu..

Yo, sobat..

Berhubung dalam waktu 3 hari ke depan (termasuk hari ini) ane akan disibukkan oleh beberapa Amanah.. *Sayangnya belum ada Aminah.. Hiks..* Maka dari itu, pada segment One Day One Ayat kali ini, ane akan mengkaji sekaligus 3 ayat.. Nah, biar kajiannya juga ga terlalu ngegantung, 3 ayat ini pun ane pilih dari 1 surat yang memang ayatnya berjumlah pas 3 ayat..

Ada yang bisa nebak surat apa itu? *ya bisa lah, wong di judul postingannya ditulis kok.. hha..* 

Yap, Surat Al-Asr.. Surat idaman para "pengebut" shalat.. *hhe, karena suratnya pendek kali ya*

Tapi biarpun suratnya pendek, kandungannya itu.. Beeh, ajib, sobat.. Surat ini yang jadi tamparan bagi para penyia-nyia waktu.. Surat ini yang jadi motivasi para pemburu amal shaleh.. Surat ini yang jadi prinsip para pejuang dakwah.. Dan surat ini yang jadi penyubur kesabaran tatkala ujian kehidupan terasa berat..

Luar biasa kan kandungannya? Nah, biar lebih afdhal, ane retweet deh lafazh dan terjemahan suratnya.. (Sumber: quran4theworld)

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.



1.
Demi masa.



2.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,


3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menta’ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.


Kajian Surat

Ok, kita mulai kajian suratnya.. Hmm, tapi bosen kali ya kalo mengkajinya ane lagi ane lagi..

Nah, biar lebih menarik, kajian kali ini akan disajikan dalam bentuk video ilustrasi kandungan Surat Al-Asr yang diisi oleh Ust. Nouman Ali Khan dan diilustasikan oleh Akhi masterchomic..

Kajiannya dalam bahasa inggris.. Kalau kalian kesulitan dalam memahaminya, insya Allah ilustrasinya tetep akan bisa memberikan kalian gambaran tentang alur pengkajiannya kok.. :)
Oke, selamat menyimak..



Gimana, sobat? :) The best kan video kajiannya?

Kalau kalian mendapat banyak inspirasi dari kajian ini, yuk sama-sama kita mengucap hamdalah.. Alhamdulillah.. Kalau belum, yuk sama-sama kita berdoa agar Allah melapangkan hati kita agar lebih peka dengan petunjuk-petunjuk Allah yang bertebaran dalam keseharian kita, terutama dalam ayat-ayat suci Al-Quran Al-Karim.. Aamiin..

Shadaqallahu wa shadaqarrasul..
Billahil hidayah wat taufiq..

Wassalamu 'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu..
[...]

Categories:
Comments

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu 'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Yo, sobat..

Hari ini ane akan mengkaji surat Al-Hujurat ayat 14 tentang iman, yang kira-kira terjemahannya seperti ini:
Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman" Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Hujurat:14).
Kenapa mengkaji ayat ini?

Sumber: catatankaktus
Ane tertarik mengkaji tentang ayat ini setelah membaca posting blog salah satu sahabat-wati ane, Raisa Cinthia-wati, tentang "yang penting kan, berjilbab hatinya dulu?".. Di sana, icha (panggilan "sok imut"-nya Raisa :p *hha.. peace, cha*) membahas tentang kegalauan beberapa muslimah yang belum berjilbab dengan alasan ingin berjilbab hatinya dulu..

Dari permasalahannya, ane nangkepnya gini.. Para muslimah ini galau antara "harus beriman dulu (berjilbab hati) baru kemudian tunduk dengan perintah-perintah Allah (berjilbab kepala)" ataukah "harus tunduk kepada perintah Allah dulu (berjilbab kepala) baru kemudian iman itu akan tumbuh dalam hatinya (berjilbab hati)"? *kira-kira bener gitu galaunya kan, cha?*

Kaitan ayat dengan permasalahan itu?

Nah, untuk masalah ini, tentunya kalo mau beropini, pasti setiap orang punya pendapatnya masing-masing.. Dan mungkin bakal berbeda-beda juga pandangan2nya.. Oleh karena itu, untuk menghindari kesubjektifan postingan ini, ane ga akan mengkaji permasalahan ini dari sudut pandang pribadi ane sendiri, tapi ane akan mengkajinya langsung dari sudut pandang Al-Quran Al-Karim..

Nah, kegalauan muslimah ini sebenernya secara implisit telah terjawab oleh ayat ini.. Walaupun mungkin asbaban nuzul-nya bukan karena masalah galau kaya gini, tapi ane coba bantu berijtihad dengan mengaitkan kandungan ayat ini dengan kegalauan "berjilbab" para muslimah ini..

Ok.. kita mulai coba mengkajinya ya..

Potongan ayat yang menyebutkan,
"Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu",
ini secara blak-blakan menjelaskan bahwa, walaupun kita belum benar-benar beriman dalam hati kita *dalam kasus ini, belum "berjilbab hati"*, Allah tetap memerintahkan kita untuk tetap tunduk terhadap perintah Allah *dalam kasus ini, "berjilbab kepala"*..

Nah, kalo begini sudah jelas kan jawaban dari "mana yang duluan, berjilbab hati dulu atau kepala dulu?".. Yap, jawabannya berjilbab kepala dulu tanpa harus menunggu berjilbab hati..

Tapi mungkin kita akan berpikir, "wah, kalo gitu, kita munafik donk namanya..? beramal bukan karena hati..".. Nah, pemikiran kaya gini yang harus disingkirin, sobat.. Beramal itu bukan karena hati kita.. tapi karena ketundukan kita terhadap perintah Allah.. Walaupun kita beramal dengan inisiatif hati kita dan hati kita menganggap itu baik, tapi kalau Allah tidak memerintahkannya atau justru bahkan melarangnya, maka amalan kita akan sia-sia..

Contoh, kita bertemu pengedar narkoba.. Terus kita merasa iba karena dagangannya ga laku-laku sedangkan dia lagi butuh uang untuk pengobatan ibunya yang lagi sakit keras.. Hati kita pun tergerak untuk membantunya.. Tapi kita ga mikir sebelum membantu dia.. Kita malah membantunya dengan membeli narkobanya.. Padahal kita bisa membantunya tanpa harus membeli narkobanya.. Ya, langsung aja tengok ibunya, dan tanggung semua biaya pengobatannya..

Contoh ini menggambarkan bahwa, saat hati kita menganggap perbuatan itu baik, tapi selama cara yang kita lakuin salah, maka amalan kita non-sense.. Sia-sia yang kita lakuin.. Karena ga cukup dengan niat doank, tapi harus diiringi juga dengan cara yang benar..

Nah, selanjutnya mungkin kita berpikir, "oh, ok.. tapi yang namanya amal kan tetep tergantung niatnya.. Innamal a'malu bin niat.. Selama kita belum berniat berjilbab, sia-sia juga donk kita berjilbab?"..  Weis, siapa yang bilang sia-sia, sobat? Coba kita baca lanjutan ayatnya..
"dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."..
Tuh, jelas kan? Kalo kita tunduk taat kepada Allah, Dia ga akan mengurangi sedikit pun pahala amalan kita itu.. Walaupun kita masih ada keragu-raguan dengan keimanan dalam hati kita, selama kita ga riya ataupun syirik, amalan kita dalam memenuhi perintah-Nya itu akan selalu dibalas dengan pahala yang setimpal.. Ga akan dikurangi sedikitpun..

Gimana, udah ga galau lagi kan tentang "mana yang duluan, berjilbab hati dulu atau berjilbab kepala dulu".. Kalo udah ga galau lagi, yuk sama-sama mengucap hamdalah atas petunjuk Allah dalam kegalauan kita ini.. Alhamdulillah.. N kalo masih galau juga, yuk sama-sama berdoa agar Allah melapangkan hati kita agar lebih peka dengan petunjuk-petunjuk Allah yang begitu bertebaran di keseharian kita, terutama dari ayat-ayat Al-Quran Al-Karim..

Yap, sekian aja pengkajian tentang ayat ini..

Yuk, kita tutup dengan membaca hamdalah..
Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah..
Istighfar yang sebanyak-banyaknya..
Astaghfirullah.. Astaghfirullah.. Astaghfirullah..
Dan doa kafaratul majlis..
Subhanaka Allahumma Wabihamdika Asyhadu Alla illaha illa Anta Astaghfiruka Wa Atubu ilaik.

Yap, mohon maaf bila ada kesalahan dalam posting ini.. Kesempurnaan hanya milik Allah, dan kesalahan berasal dari kelalaian ane pribadi..

Wassalamu 'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu..

Pesan Penulis:

Kalau kalian tertarik dengan kajian ayat selanjutnya tentang "ciri-ciri iman yang sebenarnya", insya Allah ane akan mengkajinya di segment "One Day One Ayat".. Dan kalo kalian ga mau ketinggalan perkembangan terbaru segment ini, makanya klik tombol follow di bawah ini ya..


Next Ayat:
Al-Hujurat [49:15] *Masih coming soon ya.. kan satu hari satu ayat.. :)*

Terima kasih..
[...]

Categories:
Comments

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu 'alaykum 'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Yow, sobat blogger?

Udah baca posting tentang One Day One Post belum? Kalo udah,, silakan bersorak 'booooo' buat sang empunya blogger yang udah sukses melarikan diri dari kewajibannya membuat posting selama tiga hari.. 

boooooo...

Terima kasih,, terima kasih.. X ) *nyengir ga berdosa*..

By the way.. Ane di sini bukan untuk berkelit berribu alasan kenapa ane vakum tiga hari.. Tapi di sini ane hanya bermaksud memberikan pengumuman hasil evaluasi selama masa melarikan diri tersebut.. Yap.. ini dia..

"PENGUMUMAN-PENGUMUMAN.. SLOGAN BLOG DIPERBARUI.."
*teriak di atas tebing*

Setelah mengevaluasi realistisitas slogan sebelumnya dan membuat korelasinya dengan lama waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk membuat lima posting sebelumnya (yang hingga 1-2 jam per posting =__=a), maka dengan ini ane ingin memperkenalkan slogan baru tapi insya Allah masih dengan semangat yang sama..

Sumber: 1 Day 1 Ayat
1 Day 1 Ayat..

Yap, konsep dan semangatnya ga jauh beda dengan slogan sebelumnya.. Tapi kini lebih diberi batasan yang jelas dan realistis.. Jika sebelumnya slogan lebih bersifat umum untuk jenis posting apapun, maka kini slogan yang baru lebih bersifat khusus pada posting tentang kajian suatu ayat quran atau hadits.. Kajian tentang ayat tersebut juga dikemas se-ringan mungkin agar cukup realistis dengan jumlah waktu luang yang bisa ane alokasikan setiap harinya..

Dan yang paling penting, slogan ini diperbarui supaya semangat posting blognya ga melenceng dari tujuan awal 'berdakwah'.. :)

Ok, skali lagi harap maklum atas ketidakkonsistenan ini.. Tapi insya Allah slogan yang baru ini lebih realistis dan lebih jelas manfaatnya..

Akhir kata..
Hadanallah wa iyyakum ajma'in..
Wabillahil hidayah wat taufiq..

Wassalamu 'alaykum warahmatullahi wabarakatuhu..
[...]

Categories: