• RSS
  • Facebook
  • Twitter
Tampilkan postingan dengan label Kajian Pra-Nikah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Pra-Nikah. Tampilkan semua postingan
Comments

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu 'alaykum warahmatullahi wabarakatuh..

Sebenernya tulisan ini mau penulis apply untuk lomba menulis "Menuju pengantin baru. Nikah? Siapa takut?". Tapi rasanya dengan lebih cepat mempublikasikan secara bebas tulisan ini akan lebih baik. Lillahi ta'ala. Semoga barakah. *para peserta lain, tolong jangan jiplak tulisan ini untuk diikutkan kedalam lomba tersebut ya.. :p*

Tulisan ini akan membahas mengenai prahara perjuangan menuju pernikahan. Yap, prahara itu mungkin meliputi perjuangan mencari orang yang mau ama kita, sampai ke persiapan hari-H pernikahan. Bagi kebanyakan para pembaca *termasuk penulis*, mungkin tahapan mencari orang yang mau ama kita adalah bagian terpenting dan tersulit. Ahaha. Sepakat kan? Dan pastinya akan banyak cerita yang bisa ditulis dari kisah pengalaman di bagian ini.

Tapi untuk saat ini, ada wacana lain yang lebih menarik minat penulis untuk diangkat dalam tulisan kali ini. Apa itu? Let me tell you, guys.

She pretends to be shot

Mungkin prahara ini bisa penulis ibaratkan layaknya kita tengah memburu seekor burung. Kita menembaknya, namun saat kita mendekati burung yang telah terjatuh itu, kita menyadari bahwa tak ada bekas luka tembak pada dirinya. Yang ada hanyalah sebelah sayapnya yang tengah terluka, entah karena apa.

Hmm. Gimana? Kalian berhasil nangkep maksud dari pengibaratan ini ga?

Ya, ini mengenai masa lalu. Dan mungkin masa lalu yang membekaskan luka. Atau bahkan luka tersebut juga lah yang menjadi salah satu alasan calon kalian menerima kalian.

Hmm. Maaf. Penulis ga bermaksud bilang bahwa calon kalian mungkin hanya berpura-pura menerima kalian. Engga. Tapi mari kita coba lihat ini sebagai bentuk pemberian kepercayaan. Ya, dia memberikan kepercayaan kepada kalian untuk menyembuhkan luka masa lalunya itu.

Merajut masa depan, mengurai masa lalu

Sumber: tribunnews.com
Yap, kita sepakat bahwa kalian hanya akan hidup dengan dirinya dan masa depannya setelah kalian menikah. Tapi itu ga berarti kalian bisa terlepas dari jeratan masa lalu kalian berdua. Meninggalkan masa lalu yang masih terbelit kusut hanya akan menjerat kalian di suatu saat kelak. Maka mencoba mengurainya kembali untuk menjadi benang baru yang bisa kalian pakai untuk merajut masa depan kalian berdua adalah sesuatu yang sangat bijak.

Mungkin memang akan sangat sulit mengurai sesuatu yang terlanjur sangat kusut dari masa lalu kalian. Akan ada ketegangan. Dan jika kalian salah bersikap, maka bisa jadi kekusutan itu malah menjadi simpul mati yang tak akan pernah bisa terurai kembali. Oleh karena itu, cobalah untuk mengurainya dengan lembut dan perlahan. Jangan terburu-buru menarik kesimpulan hanya dengan dugaan-dugaan belaka. Sabar dan rasa saling percaya akan menjadi kunci yang sangat penting dalam mengurai masa lalu kalian berdua.

"You are going to marry her soul, not her heart. No matter how complicated her heart is, her soul is still pure to be yours. Be gentle to her and try to cure the sorrow of her past."
[...]

Categories:
Comments

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu 'alaykum warahmatullahi wabarakatuhu

Sebagai putra bungsu ke-5, bisa dibilang ane adalah bujangan perjaka yang ud punya pengalaman pernikahan. Ya, walaupun itu bukan pengalaman fisik. *eh? hha, bcanda* Ane cukup kenyang dengan pengalaman mental pernikahan.

Gimana ga? Dilahirkan sebagai bungsu membuat ane secara gak langsung menyimak bagaimana perubahan kehidupan kakak-kakak ane pra dan pasca nikah. Gimana dinamika kehidupan pernikahan mengubah mereka, membawa mereka ke dalam warna kehidupan penuh dengan senyum, tawa, keluhan, hingga air mata baru yang tak pernah ane lihat sebelumnya dalam kehidupan kakak-kakak ane sebelum menikah.

Keempat kakak ane, semuanya memiliki kisah-kisah menarik masing-masing tentang pernikahan mereka. Entah itu kisah bagaimana akhirnya mereka menikah, tentang bagaimana mereka di hari-hari awal pernikahan, bagaimana haru birunya momen saat persalinan, ampe tentang hal-hal sepele atau bahkan fatal yang membawa mereka ke dalam prahara pernikahan. Yaa, tapi alhamdulillah semua baik-baik saja hingga saat ini.

Hhh, inget itu semua ngebuat ane kadang jadi kepikiran tentang diri ane sendiri juga. Cepat atau lambat, insya Allah ane pun akan merasakan hal yang sama. Agak jiper sih. Jadi suka ngerenung. Entah nanti ane siap atau ga untuk nerima semua celotehan istri pas dia nyadar kebiasaan-kebiasaan buruk ane. Entah ane bakal jadi pemimpin yang bisa mengayomi dia atau ga. Entah ane bakal jadi bapak yang baik atau ga buat anak-anak dia nanti. Entah ane bakal tegar banting tulang untuk nyekolahin mereka atau g. Entah ane bisa tetep mantau putri ane atau ga klo putri ane harus ngekos sendirian karena kampusnya jauh dari rumah ane. Entah ane bisa sebijak camer saat ini atau ga kalau-kalau nanti ada yang ngelamar putri ane pas dia masih kuliah juga. Entah ane bakal lancar atau ga pas ucap ijab sambil genggam tangan sang ikhwan yang akan jadi pemimpin putri ane itu. Entah gimana ane harus bersikap sebagai seorang mertua saat sang mantu nuntut poligami. Entahlah. Ane juga bingung kenapa mikir ampe sejauh ini.. = =

Ga, ane ga bermaksud ngegaring di sini. Memang terkadang berpikir jauh seperti itu perlu. Layaknya maen catur, adalah kesalahan fatal jika kita mengambil satu langkah tanpa memikirkan konsekuensi untuk langkah-langkah selanjutnya. Untuk mencapai tujuan utama, mengalahkan raja lawan, sebelumnya akan banyak prajurit dan ksatria-ksatria berharga kita yang harus dikorbankan. Ane sadar, pernikahan pun seperti itu. pernikahan hanyalah salah satu langkah yang akan mengawali berbagai pengorbanan-pengorbanan yang lebih besar lainnya untuk mencapai tujuan pernikahan yg utama, mencapai ridho-Nya..

Terlalu awal tahu tentang prahara pernikahan setelah menyimak kakak-kakak ane emang kadang ngebuat ane jiper sih. Tapi ane percaya akan selalu ada kemudahan yang disiapkan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang memilih jalan menuju ridho-Nya.

Semangat ini yang akhirnya menginspirasi ane untuk mencoba memutar balik pengalaman ini, bukan menjadi suatu phobia yang hanya membuat ane jadi gak pernah berani melangkah ke arah sana, tapi menjadi suatu hikmah yang menjadi pelajaran berharga sehingga ane tahu bagaimana harus melangkah ke arah sana ataupun saat sudah di sana.

Sebenernya ane mau ngulas semua pengalaman-pengalaman mengenai kisah pernikahan kakak-kakak ane, tapi berhubung ane ga mau terkesan bahas yang enak-enaknya aj dari pernikahan, ane sekarang lebih tertarik ngebahas tentang prahara-praharanya aja. Kebetulan baru aj beberapa hari yang lalu ada salah-satu kakak ane yang curhatin masalah rumah tangganya.

Yaa, ane ga bakal so2an nasihatin kakak ane itu lah.. Kan jelas dia jauh lebih berpengalaman dari ane.. ane hanya berusaha menempatkan diri sebagai pendengar yang baik baginya saat itu. Tapi alhamdulillah, ternyata banyak hikmah yang justru bisa ane ambil dari semua hal yang kakak ane ceritain itu. Inti permasalahannya yang ane tangkep sih masalah komunikasi yang ternyata sangat krusial dalam suatu rumah tangga.

Sumber: cartoonstock.com
Komunikasi antara suami-istri, mantu-mertua, atau sesama ipar, itu semua jadi salah satu kunci keharmonisan rumah tangga. Ane kasih contoh kasus bagaimana komunikasi mempengaruhi keharmonisan rumah tangga.

Kesalahan persepsi (ane kutip dari tulisan di kompasiana.com)
Misalnya ketika suami mengatakan “Aku tidak senang melihat engkau berpakaian seperti itu”. Sang isteri tersinggung dan sakit hati, karena ia menyimpulkan suaminya membenci dirinya. Perhatikan, kata “tidak senang”, telah dipahami sebagai “benci”. Padahal “tidak senang” itu tidak sama dengan “benci”. Ini yang menjadi salah satu contoh problem semantik dalam komunikasi, bahwa kata-kata dan kalimat itu bisa dimaknai dengan cara berbeda oleh pasangan. 
Contoh lain, saat isteri mengatakan kepada suami, “Aku ingin kamu lebih bersemangat dalam kerja, supaya hasilnya lebih banyak.” Kalimat ini membuat sang suami tersinggung, karena “Saya dikira pemalas. Saya kan sudah bekerja keras selama ini”. Perhatikan, kata “lebih bersemangat kerja”, dipahami sebagai menuduh suami sebagai pemalas. Padahal jelas sangat berbeda maknanya.
Nah, itu salah satu contohnya.. Masih banyak lagi contoh lainnya. Lengkapnya, ane ga bakal ceritain panjang lebar di sini kok. Langsung aj bagi yang tertarik untuk mempelajarinya lebih dalam, kalian bisa baca di ebook ini.


Yap, ane juga belum kelar sih baca ebooknya.. hha.. Tapi iseng-iseng share di blog lah, kali aj bermanfaat buat ikhwah fillah yang lagi mempersiapkan diri untuk kehidupan yang baru setelah pernikahan. *moga aj calon istri ane juga baca.. :9 hha*

Biar ga jiper am seremnya pernikahan, ane provokasi kalian am gambar ini deh.. ^^

Sumber: Catatan Catatan Islami

Selamat berburu hikmah, kawan.
Selamat memantapkan diri untuk melepas masa lajangmu.

Barakallah fii kum..
Wassalamu 'alaykum warahmatullahi wabarakatuhu..
[...]

Categories:
Comments

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu 'alaykum warahmatullahi wabarakatuhu.

Akhi, kali ini ane mau angkat isu mengenai cinta kepada perempuan nih. Yaa, berhubung umur udah kepala dua kan, so ane ga akan ngomong cinta-cintaan ala ABG. Tapi bakal lebih ke arah cinta yang lebih serius, cinta yang mengawali suatu rumah tangga.

Ok, isu yang mau ane angkat di sini adalah berupa suatu pertanyaan yang umum ditanyakan oleh para calon pelepas status bujang, "Sebenernya mencintai calon istri itu suatu kewajaran, atau keharusan, atau justru hal yang harus dihindari sih?"

Hmm, sorry kalo ternyata pertanyaan ini ga semua dipertanyakan oleh para calon pelepas status bujang. Ane cuma sampling dan ternyata ada satu orang yang mempertanyakan ini. Kebetulan orang itu adalah ane sendiri. *ea, ini sih sesi curcol namanya.. ahaha*

Hha, yaa itung-itung pembelajaran untuk diri sendiri kan. Syukur-syukur kalo ada di antara ikhwah fillah yang lagi mempertanyakan hal yang sama.

Ok, ane mulai analasis pertanyaan ini ya. Yang terlentas pertama untuk menjawab pertanyaan ini adalah potongan ayat berikut,
"Zuyyina lin nasi hubbusy syahwati minan nisa-i..." (Ali-Imran:14)
Di sini terdapat tiga kata kunci. Pertama Zuyyina, artinya diperhiaskan. Kata, kedua ialah Hubb, artinya kesukaan atau cinta. Kata ketiga ialah Syahwat, yaitu sesuatu yang menimbulkan rasa ingin memilikinya. Sehingga rangkaian terjemahan dari potongan ayat tersebut begini:
"Diperhiaskan pada manusia suatu kecintaan pada apa-apa yang menimbulkan rasa ingin memiliki, yaitu dari wanita..."
Sooooo...

Jawabannya adalah wajar kalian memiliki rasa cinta pada wanita sang calon istri kalian.. Karena itu adalah fitrah yang dihiaskan Allah pada diri manusia.. Tanpa itu, tidak menutup kemungkinan kalian justru memilih calon istrinya dari jenis kelamin yang keliru.. Hha, Naudzubillah..

Nah tapi ga berhenti ampe di sini aj, akh.. Karena ini belum kesimpulan.. Ada pertanyaan selanjutnya yang harus dijawab, "Cinta yang sebatas apa nih yang wajar kita miliki pada calon istri yang belum jadi hak kita?"

Yap, pertanyaan ini yang hampir luput dari ane selama menjalani masa-masa pra-nikah saat ini. Alhamdulillah ada hal yang menjadi tamparan bagi ane untuk kembali mengevaluasinya.

Bicara soal cinta, sebenernya ga bisa didefinisiin ama kata-kata kan. Nah, tapi beda halnya ketika kita bicara soal cinta dari sudut bahasa. Cinta dalam bahasa arab tuh banyak banget kosa katanya. Ada mawaddah, ada rahmah, dan masih banyak lainnya.

Nah, kalo dalam Al-quran, Allah menggunakan kata cinta dalam tujuh istilah berikut. (Ane mengutipnya dari tulisan Prof. Dr. Achmad Mubarok MA. tahun 2011)
1. Mawaddah (Q/30:31), Mawaddah adalah jenis cinta yang mengebu-gebu, membara, bergelora dan “ngegemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Bagi orang yang dilanda cinta mawaddah, dunia adalah milik kita berdua, orang lain tidak ada.
2. Rahmah (Q/30;31), Rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Nasehat perkawinan selalu ada doa dan harapan agar pasangan dikarunia cinta mawaddah dan rahmah.
3. Mail, jenis cinta yang ini memiliki karakteristik; untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.
4. Syaghaf, cinta jenis ini sifatnya sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir ketika tergila-gila kepada bujangnya, Yusuf.
5. Ra’fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk salat. Ketika orang yang dicintainya itu melakukan kesalahan, ia bukan saja tidak menghukum, malah membelanya. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2). Janganlah rasa kasihan menyebabkan keadilan tidak ditegakkan.
6.Shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku menyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdo'a agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33).
7. Syauq (rindu), Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi.
8. Kulfah, cinta jenis kulfah adalah perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286).
Nah dari ketujuh istilah cinta dalam qur'an ini (+ 1 istilah dari hadits), kita bisa evaluasi nih, sebenernya rasa cinta kita saat ini kepada calon istri bisa dikategorikan ke dalam istilah cinta yang mana.

Untuk istilah cinta mawaddah dan rahmah, ane sudah pernah membahas di artikel sebelumnya tentang pasangan hidup. Di artikel itu, ane membahas bahwasanya untuk memilih pasangan hidup, sebaiknya jangan mengawalinya dengan mawaddah dan rahmah, tapi awali dengan rasa kesejiwaan dan rasa sakinah (merasa tenteram bersamanya). Setelah mengawalinya dengan kesejiwaan dan sakinah, maka rasa mawaddah dan rahmah insya allah akan tumbuh dengan sendirinya selama membangun keluarga bersama sebagai pasangan hidup yang sah.

Untuk istilah cinta mail, ane akan membahasnya dalam konteks calon istri pertama, bukan poligami. Jika cinta yang kita rasakan pada calon istri berdampak pada terkurasnya perhatian kita kepada sang calon saja, sehingga perhatian kita kepada hal-hal lain yang sesungguhnya lebih berhak untuk kita perhatikan jadi terbengkalai. Ini bisa diindikasikan ketika kita dihadapkan pilihan antara menggunakan rezeki lebih untuk ditabung sebagai mas kawin calon istri atau menggunakannya untuk membelikan sesuatu yang lebih bermanfaat yang kebetulan sangat dibutuhkan oleh orang tua kita saat itu. Jika kita lebih memprioritaskan calon istri, maka cinta kita bisa digolongkan sebagai istilah cinta mail. Hal seperti ini sebaiknya dihindari. Kita tetap harus menaruh hak sebagaimana proporsinya. Ingat, kita adalah calon pemimpin rumah tangga, dan kita harus lebih bijak dan adil dalam memenuhi hak anggota keluarga kita.

Untuk istilah cinta syaghaf, ra'fah, dan shobwah, ini jelas harus dihindari. Cinta seyogyanya tidak membutakan kita sehingga melanggar ketentuan-ketentuan Allah.

Nah, istilah syauq ini mungkin yang paling pas buat ane. *ea, curcol lagi*. Yaa, sama seperti rindu berjumpa kepada Allah, rindu itu tidak serta merta membuat kita memilih untuk bunuh diri supaya bisa berjumpa dengan Allah. *hha, ya iyalah, malah masuk neraka kalo gitu*. Tapi rasa rindu itu justru yang membuat kita semakin tegar dan sabar menjalani ujian kehidupan hingga tiba masanya rasa rindu ini bisa terbayarkan di akhirat nanti.

Istilah terakhir, kulfah, menurut ane ini adalah bentuk cinta yang terindah. Subhanallah. Maha suci Dzat yang menciptakan istilah cinta terindah ini.

Catatan untuk sang calon istri:

Ukhti, afwan sebelumnya jika rinduku berlebihan kepadamu. Tapi sungguh, rindu ini tidak akan membutakanku hingga melanggar batas-batas yang seharusnya ku jaga. Rasa rindu ini yang justru memberiku motivasi untuk terus memantaskan diriku untuk menjadi pemimpinmu nanti.

Dan mengenai hal yang kau tegur saat itu, sungguh aku tidak tersinggung karenanya. Justru itu membuatku tersanjung karenanya. Menyadarkanku begitu indahnya ketegasanmu. Selayaknya ku merasa kaulah yang memiliki istilah cinta yang terindah ini, kulfah. Jazakillah bi ahsani jaza, ukhtii fillah. Ku mendoakan keberkahan Allah terus menyertaimu.
[...]

Categories:
Comments

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu 'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu.

Kok bicara tentang "nikah" melulu?

Akhi dan Ukhti..

Setelah baca judul postingan ini, antum pasti tau arah pembahasan ayat kali ini ke arah mana? :) Ya, masih tentang munakahat..

Maaf sebelumnya ya kalau pembahasan ayat yang ane angkat masih aja seputar munakahat. Ane sadar sebenernya masih banyak amanat dakwah selain membicarakan tentang "nikah" melulu seperti ini. Walaupun begitu, ane tetep yakin dakwah mengenai ini akan memiliki dampak yang cukup besar ke amanat-amanat dakwah lainnya..

Ko bisa? Ya, bisa.. Kalo kita bicara tentang munakahat, artinya kita bicara tentang pembentukan suatu keluarga yang akan menjadi madrasah utama manusia dalam mengenal kehidupan.
sumber: kabarnet

Ane pernah berbincang dengan salah seorang relawan pengelola Sekolah Gratis Masjid Terminal Depok, beliau menceritakan bahwasanya anak-anak jalanan yang bersekolah di sana sebenarnya bukanlah anak-anak yang berlatarbelakang tidak mampu dalam finansial. Anak-anak jalanan ini memutuskan berkutat di jalanan bukan karena uang. Tapi untuk pelarian dari masalah-masalah dalam keluarganya. Ya, sebagian besar dari mereka ternyata berlatarbelakang keluarga yang "broken-home".

Nah, antum ud nangkep permasalahannya apa di sini? Ya, keluarga. Itu yang dirindukan oleh anak-anak jalanan. Walaupun ia mencari pelarian dari masalah keluarganya di jalanan, kebersamaan dan bimbingan yang ia terima di sana jelas berbeda andaikan kebersamaan dan bimbingan itu datang dari keluarganya sendiri. Kebutuhan mental mereka tidak terpenuhi saat keluarga tidak berhasil memegang peranannya.

Keluarga itu ga sesederhana: Ayah kerja, ibu masak, anak sekolah. Ga. Ga seperti itu. Keluarga itu mengandung banyak peranan. Dan peranan yang paling utamanya itu adalah menjaga keistiqamahan. Keluarga yang bisa menjaga semangat tiap anggotanya dengan kasih-sayangnya. Keluarga yang bisa menjaga kebersamaan tiap anggotanya dengan ketentramannya. Keluarga yang bisa menjaga nilai-nilai moral yang tertanam dalam pribadi tiap anggotanya dengan bimbingan hikmahnya. Karena selain keluarga, ga ada yang bisa menelisik personal seseorang jauh lebih dalam.

Dengan kata lain, keluarga itu sebenernya adalah medan dakwah yang utama. Saat setiap keluarga berhasil memegang peranan dakwahnya ini, insya Allah dakwah dalam tingkat masyarakat pun akan lebih mudah. Karena dunia yang penuh keberkahan hanya bisa tercapai jika masyarakatnya menjunjung tinggi ajaran islam. Dan masyarakat yang menjunjung tinggi ajaran islam itu berawal dari keluarga yang kesehariannya dipenuhi dengan nilai-nilai keindahan akhlak islami.

Pengkajian Ayat: Pasangan Hidup

Saat kita bicara tentang pembentukan keluarga yang bisa memegang peranan dakwah dalam keluarganya sendiri, maka sorotan utama kita akan menuju dua sosok yang akan memegang peranan utamanya, yaitu Ayah dan Ibu.

Dari perspektif anak, mereka memang Ayah dan Ibu. Tapi keluarga bukan sekedar hubungan anak dengan orang tuanya saja. Bukan hanya tentang Ayah dengan anaknya atau Ibu dengan anaknya. Tapi ini juga tentang hubungan antara sang Ayah dengan sang Ibu. Baik hubungan interpersonalnya (Suami-Istri) ataupun hubungan ketika mereka hadir bersama di depan anak-anak (Ayah-Ibu).

Dua peranan ganda yang dipegang sang Suami dan sang Istri ini tentunya bukan suatu hal yang main-main. Suami-Istri ga sesederhana gebetan, pacaran, tunangan, HTS, atau apapun itu yang mengatasnamakan komitmen yang sebenarnya semu belaka. Suami-Istri itu pasangan hidup. Bukan sekedar menjalani hidup bersama, tapi juga memenuhi tanggung jawab bersama. Perlu adanya suatu chemistry yang membuat keduanya bisa klop untuk bekerja sama sesuai peranannya masing-masing

Nah, kaya gimana sih chemistry antara Suami-Istri itu menurut tuntunan Al-Qur'an? Cek ayat berikut ini,
“Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu dari jiwa kalian sendiri pasangan hidup, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar-Rum 21].
Nah inilah alur chemistry pasangan hidup yang dituntun oleh Al-Qur'an. Ada beberapa kata kunci di sini:

Satu jiwa. Min anfusikum. Dari jiwa kalian sendiri. Artinya, hal pertama yang harus dimiliki oleh suami istri adalah satu jiwa, soulmate, kesesuaian jiwa. BJ Habibie menyebutnya sebagai Manunggal. Semacam ada telepati di antara mereka dalam berkomunikasi. Satu jiwa ini yang membuat suami istri bisa klop meskipun belum pernah bertemu sebelumnya. Ya, kesejiwaan ini semacam kode dalam diri kita. Bisa itu berupa kesamaan visi, kesamaan komitmen, ataupun kesamaan dalam bentuk lain yang tidak bisa disadari oleh manusia. Dalam Islam, kesejiwaan yang paling utama itu adalah kesamaan komitmen kepada Allah dan agama.

Pasangan hidup. Azwaajan. Tepat setelah menyebut satu jiwa, Al-Qur'an langsung mengatakan bahwa merekalah pasangan hidup. Suami istri. Dengan begini Al-Qur'an mengajarkan bahwa pasangan hidupmu yang sebenarnya adalah pasti dari jiwa yang sama. Mengenai ini, kita biasanya dihadapkan dua hal. Menikahi orang yang kita cintai atau mencintai orang yang kita nikahi. Yang pertama cuma sebuah kemungkinan. Tapi yang kedua merupakan sebuah keharusan. Ketika kita sudah memutuskan berkomitmen bersama dengan seseorang, maka dialah pasangan hidup kita. Jadikan ia belahan jiwa kita. Jangan biarkan cintamu yang belum halal kepada orang sebelumnya menjadi penghalang jiwamu untuk bersatu dengan jiwa pasangan hidupmu saat ini.

Supaya kamu merasa tenteram kepadanya. Litaskunuu ilayha. Sakinah. Tepat setelah pasangan hidup yang sejiwa ini bersatu, Al-Qur'an langsung menjamin ketenteraman akan menyelimuti rumah tangga mereka. Jika rumah tangga tidak tenteram, maka itu mengindikasikan mungkin mereka tidak memulainya dengan kesejiwaan atau belum mau membuka hati untuk menyatukan jiwa mereka, menyatukan komitmen mereka. Sakinah ini selayaknya menjadikan pernikahan sebagai penyempurna separuh agama seseorang. Karenanya seseorang menjadi tenteram dengan adanya penyaluran yang halal dan baik untuk syahwatnya, dan tenang dengan adanya sahabat sejiwa yang akan terus memberikan semangat dan dukungan dalam setiap perjuangannya..

Mawaddah. Apa itu mawaddah? Dalam Qur'an terjemahan Departemen Agama, mawaddah diartikan sebagai kasih. Tapi sebenarnya mawaddah ini artinya cukup spesifik. Mungkin dalam bahasa inggris dan bahasa indonesia hanya dikenal kata love dan cinta. Tapi dalam bahasa arab, ada banyak kosakata spesifik yang menggambarkan kata cinta. Salah satunya mawaddah. Mawaddah ini adalah ekspresi cinta yang meliputi batin dan lahir juga, dari yang sifatnya sangat emosional romantis hingga yang sifatnya sangat syahwat biologis. Inilah mawaddah. Dalam ayat ini, mawaddah dianggap sebagai akibat, bukan sebab. Jika pasangan hidup itu sejiwa, maka akan tumbuh di dalamnya mawaddah. Itu alur yang diajarkan Qur'an. Jangan tertukar. Sering kali kita beranggapan, harus cinta (mawaddah) dulu baru pasangan tersebut akan cocok. Bahkan ada yang sebelum menikah sudah menikmati mawaddah yang biologis. Na'udzubillah. Jika seperti ini, maka alurnya akan kacau. Mungkin pasangan ini akan memiliki mawaddah, tapi belum tentu ada sakinah di dalamnya.

Rahmah. Ini juga salah satu kosa kata cinta dalam bahasa arab. Cinta yang seperti apa? Jika diibaratkan, Rahmah itu seperti cinta seorang ibu kepada anaknya. Tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi. Tak harap kembali. Rahmah itu memberi, bukan menerima. Rahmah itu berkorban, bukan menuntut. Rahmah itu berinisiatif, bukan menunggu. Rahmah itu bersedia, bukan berharap-harap.

Nah itulah alur chemistry pasangan hidup yang dijelaskan Allah SWT dalam Al-Qur'an Al-Karim.

Satu Jiwa, Menikah, Sakinah => Maka akan tumbuh Mawaddah dan Rahmah.
Inilah pasangan hidup yang barakah.

Jangan tertukar.
Jika kita mengawalinya dengan mawaddah => hanya akan berujung pada kemaksiatan.
Jika kita mengawalinya dengan rahmah => hanya akan berujung pada cinta yang bertepuk sebelah tangan. *ea, galau-galau dah.. hha*

Awali pernikahan dengan kesejiwaan dan ketenteraman.. Maka Allah akan menanamkan mawaddah dan rahmah didalamnya. Insya Allah. :)

Wallahu a'lam.
Billahilhidayah wat taufiq.
Wassalamu 'alaykum warahmatullahi wabarakatuhu.
[...]

Comments

Welcome..

Sebelumnya terima kasih buat semua pihak yang sudah memberikan comment, like, dan support pada trilogi sebelumnya,
Dukungan kalian lah yang membuat ane semangat penuh haru untuk menuntaskan episode "My Husband My Prince" ini..
Thanks, guys..

Untuk episode kali ini, ane bakal bahas tentang bagaimana menjadi pangeran bagi istri kita kelak.. Tapi, seperti yang kalian ketahui, TS-nya sendiri pun masih awam dalam memahami wanita.. Terbukti dari status ane yang masih belum menikah..

Nah, daripada ane langsung so2an berteori yang malah sesat dan menyesatkan tentang hal ini, so ane memutuskan kuliah kilat secara otodidak dulu dengan membaca buku testimonial dari saudara-saudari kita yang sudah mencicipi prahara memahami pasangan setelah menikah lebih dulu dari kita..
dan setelah beberapa malem begadang nuntasin tuh buku,,
Ane siap menjabarkan beberapa teori yang terbukti secara empiris dari berbagai pengalaman para pakar rumah tangga yang sudah-sudah..

Here we go..!!
  • Bagaimana cara menjadi sosok pangeran bagi istri kita kelak?
Yap, seperti yang sudah kita bahas di trilogi sebelumnya tentang mencari calon istri yang berpotensi menjadi putri di rumah tangga kita nanti,, so, ud sepatutnya juga bagi para calon suami untuk memantaskan dirinya dengan menjadi sosok pangeran bagi sang calon putri tersebut..

Dari kriteria2 calon putri yang disebutin, kira2 ga jauh beda lah ama calon pangerannya.. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat An-Nuur ayat 26,
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (syurga).(QS. 24:26)
Yang "sholehah" untuk yang "sholeh".. Cukup fair kan? Tentunya kita tidak mau ketika nanti disandingkan dengan istri yang sholehah, kita malah terlihat menjadi seperti sosok Fir'aun disamping Siti Asiyah.. Na'udzubillah..

So, hal utama yang harus dipersiapkan untuk menjadi sosok pangeran dalam rumah tangga nanti adalah kesholehan, baik dalam pengetahuan agamanya, tauhidnya, aqidahnya, dan akhlaknya.. Karna biar bagaimanapun, kita harus menyadari posisi kita sebagai calon pemimpin dalam kerajaan kecil kita nanti..

Nah, tapi jangan pernah puas dengan hal itu aja, sobat.. Karna kita harus menyadari bahwa sang putri tidak dilirik oleh satu calon pangeran saja.. Akan banyak pria-pria sholeh lainnya yang mungkin bermaksud meminangnya juga..

Di sinilah kesungguhan dan keistiqamahan kita diuji.. Apakah kita akan langsung mundur begitu aja ketika menemukan kenyataan kita harus memasuki ranah persaingan dalam mendapatkan sang putri? Tentu tidak, ummat Rasulullah SAW tidak akan pernah menyerah sebelum berusaha.. Gimana sang Putri bisa menyadari yang mana Pangerannya kalo calonnya aja minderan..? Fight for the best with your best laah, kawan.. Tunjukkan dulu dirimu, sang Putri (dengan insting dan kepekaan perasaannya) insya Allah akan tetap bisa melihat permata di antara tumpukan kerikil, apalagi klo permatanya ada di permukaan paling atas, ga tertutupi oleh kerikil-kerikil lainnya.. *halah, jelimet gini ngejelasinnya.. ngerti ga penonton?

Nah.. Kali ini ane akan bahas dalam perspektif pihak cewenya juga.. Supaya kita punya gambaran seperti apa sih pertimbangan2 seorang akhwat dalam memilih calon pangerannya..

  • Seorang Putri atau Wanita Biasa
Tapi, coming soon dulu ya..  lanjut lagi besok ngetiknya..

[...]

Comments

Sebelumnya, mohon maaf jika selama perjalanan kalian sampai ke thread ini ada hal2 yang kurang berkenan..

:maaf:
Kali ini kita akan serius membahasnya.. oke kita mulai..
  • Bagaimana menemukan seorang putri untuk dijadikan istri kita? :matabelo:
Mungkin jawabannya simpel: ya cari aja langsung ke istana kerajaan.. Hha.. Tapi permasalahannya, nyaris mustahil bagi kita berhasil menjadikannya istri kita..

Nah, dari pada kita stress dan memutuskan bunuh diri karena ditolak putri beneran.. Sebaiknya yang kita cari bukanlah seorang perempuan yang sudah menjadi putri kerajaan beneran.. Tapi carilah perempuan yang berpotensi menjadi sosok seorang putri yang pandai menghiasi kehidupan rumah tangga kita nanti..
  • Bagaimana melihat potensi tersebut dalam calon target kita? :bingung:
Nah, itu tergantung kriteria kita tentang seperti apa istri yang dapat menghiasi hari kita nanti.. Apakah istri yang selalu menebar senyumnya yang manis kepada kita? Ataukah istri yang memiliki wajah yang cantik? Ataukah istri yang sebentar lagi akan mewarisi seluruh harta orang tuanya? Huahahaha... *yang terakhir bercanda..*

:haha:

Yaaah.. Apapun kriteria kalian, ane ga akan menjudge itu baik atau buruk.. Tapi ane hanya mencoba memberikan saran kriteria yang paling baik untuk dijadikan parameter potensi calon target kita nanti..

Berikut ini sabda2 Rasulullah SAW dalam kiat melihat potensi dalam calon target istri kita..

“Dunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan hidup adalah istri yang sholihah” (HR. Muslim)

“Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi” (HR Bukhari dan Muslim).

“Barang siapa yang diberi istri yang sholihah oleh Allah, berarti telah ditolong oleh-Nya pada separuh agamanya. Oleh karena itu, hendaknya ia bertaqwa pada separuh yang lain” (Al Hadits)

“Sebaik-baiknya istri, apabila dipandang suaminya menyenangkan, bila diperintah ia taat, bila suami tidak ada, ia jaga harta suaminya dan ia jaga kehormatan dirinya” (Al Hadits)

Nah tiga hadits pertama menekankan bahwa ke-sholihah-an adalah hal yang paling utama yang harus kita perhatikan dalam memilih calon pendamping kita.. Dan ke-sholihah-an seperti apa yang berpotensi menjadi istri yang baik untuk kita itu diberikan kisi-kisinya oleh Rasulullah SAW dalam hadits keempat..

So, yang pertama kita harus pantau adalah pengetahuan agama sang target.. Kita bisa melihatnya dari caranya berpakaian.. Ya mungkin kita tidak bisa menjudge seseorang dari covernya aja,, tapi ini hanya salah satu cara instan menilai apakah sang target benar-benar memahami dan mengamalkan perintah Allah SWT dalam Surat Al-Ahzab ayat 59..

"Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah maha pengampun dan penyayang." (Al Ahzab.59).

Then, seperti yang ane bilang, kita ga cukup menilai seseorang dari covernya aja.. Kita perlu mengetahui akhlak sang target.. Akan lebih mudah jika kita sudah mengenal keseharian sang target sebelumnya.. Tapi jika sang target adalah orang yang benar-benar baru kita kenal, maka kita perlu melakukan proses ta'aruf (perkenalan) dengan tujuan mengetahui akhlak dan pengetahuan agama sang target.. Mengenai proses ta'aruf ini, insya Allah akan dijelaskan pada segmen khusus lainnya..

Nah berdasarkan hadits keempat, pilihlah istri yang dapat menyenangkan hati kita setiap kita memandangnya..

:blink:
Kembali lagi ke kriteria kita masing-masing seperti apa yang dapat menyenangkan hati kita.. Tapi ingat, ini hanya pertimbangan tambahan, jangan lebih mengutamakannya daripada pertimbangan kesholihahannya.. Oia, satu lagi, jangan keseringan memandangnya sebelum dia bener2 jadi hak kalian (ud jadi istri)..

Kriteria selanjutnya adalah istri yang penurut pada suami.. Yaa, ini ga berarti kita berhak bersikap otoriter dan posesif terhadap istri kita nanti.. Kita tetap harus memuliakan juga hak-hak sang istri terhadap kita, terlebih lagi di zaman sekarang dimana kaum hawa telah memiliki ruang yang lebih luas untuknya berperan dalam masyarakat secara langsung.. Yang dimaksud istri yang penurut pada suami di sini adalah istri yang mengutamakan kewajibannya terhadap suami serta memuliakan hak suami terhadap dirinya.. Seberapa mulia dan besarnya pun cita-cita karir sang istri, ia tetap harus lebih mengutamakan suaminya.. Jika ia menyanggupi untuk tetap menyeimbangkan peranannya dalam karir dan rumah tangga, akan sangat mulia bagi kita (suami) untuk mendukung cita-citanya..

http://forum.indowebster.com/images/smilies/onion-86.gif

Dan satu lagi kriteria yang disebutkan Rasulullah SAW adalah istri yang pandai menjaga harta suaminya dan kehormatan dirinya.. Ya, bisa dibilang, istri kita nanti akan merangkap sebagai putri sekaligus juga menteri perekonomian dalam kerajaan kecil kita, rumah tangga.. Sejauh yang ane tangkep, intinya sih, sebaiknya istri kita nanti adalah istri yang pandai mengelola keuangan dan istri yang sabar mendampingi suami dalam pasang surut perekonomian keluarga..

:gembel:

Nah.. Rasanya perfect banget kan tuh klo semua kriteria di atas terpenuhi.. Tapi jangan terlalu selektif juga lah.. Jika ada satu-dua kekurangan, itu hal yang wajar.. Justru kita sebagai calon suaminya lah yang akan saling mengisi kekurangannya begitupula ia mengisi kekurangan kita.. ^^

Sumber:favim.com
Penikahan itu layaknya puzzle yang saling bersesuaian.. Tidak harus berbentuk sempurna atau sama.. Tapi yang penting bisa saling mengisi kekosongan dalam diri pasangan masing2..

Wallahu a'lam..

Kita udah ngebahas gimana menjadikan istri kita sebagai sang putri dalam kehidupan rumah tangga kita nanti.. Lalu, apakah pantas sang putri bersanding dengan pria biasa2 aja seperti kita..? Oleh karena itu, mampir juga ke thread selanjutnya yang insya Allah akan ngebahas tentang menjadi pangeran dalam rumah tangga..
[...]

Comments

Thanks to: easel.ly
[...]

Comments

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu 'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Yo, sobat..

Hari ini ane akan mengkaji surat Al-Baqarah ayat 235 tentang melamar istri *ea.. galau mahasiswa tahun terakhir*, yang kira-kira terjemahannya seperti ini:
“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepadaNya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”(Al-Baqarah: 235).
Kenapa mengkaji ayat ini?
Sumber: cantiksdansholehah
Ane tertarik mengkaji ayat ini setelah berbincang2 dengan salah seorang sahabat terdekat ane yang lagi galau tentang seorang akhwat yang ia incar jadi istrinya.. Kami mengerti dan sepakat bahwa dalam islam, tidak ada komitmen sebelum pernikahan.. Tapi ada hal yang menarik perhatiannya.. Kira2 begini pertanyaannya:
Zul, aku bingung nih.. Kok senior2 kita banyak yang ga pacaran tapi pas lulus tuh udah kaya punya calon istri gitu di kota asalnya ya.. Seolah2 para cewe itu punya kontak batin dan mau setia menunggu pinangan sang cowo itu walaupun belum pernah terucap janji sekalipun.. Emangnya gimana sih caranya mastiin sang akhwat itu cuma menunggu pinangan kita seorang?
Hmm.. Ane juga sebenernya ga tau persis resep rahasia para senior ini.. Tapi ya ane ngerti permasalahan yang antum galauin, akh.. Ini semacem kegalauan yang wajar bagi para ikhwan yang sudah menemukan akhwat dengan kriteria istri idaman baginya, namun masih membutuhkan waktu beberapa bulan atau beberapa tahun lagi sebelum mengajukan pinangannya karena satu dan lain hal.. *ceritanya takut disalip orang duluan gitu.. ckckck..*

Nah, malam harinya setelah perbincangan kami ini, ane baru teringat tentang ayat ini.. Walaupun sebenernya kalau kita baca ayat sebelumnya juga, ayat ini memang khusus ngebahas tentang melamar janda yang sedang di masa iddahnya aja.. *ini bukan pertanda ane mau ngelamar janda ya.. catet!! hha..*.. Tapi kalo direnungi, kayanya sih pas-pas aja buat jadi pedoman untuk melamar gadis juga.. Namanya juga ijtihad, asalkan berpegang ke quran n hadits, kalo bener dapet 10 pahala, kalo salah dapet 1 pahala.. Hhe, bismillah aja lah.. Semoga kajian kali ini bisa pas menjawab solusi kegalauan para ikhwan.. Afwan kalo ada yang salah..

Sepakat?

Sebelum kita masuk ke pembahasan kaitan ayat dengan permasalahan kegalauan ini, kita harus sepakatin beberapa hal dulu nih..

Pertama-tama, kita sepakatin dulu, kalo pacaran sebelum nikah itu haram.. Fix, ga bisa diganggu gugat.. Jadi pacaran itu bukan solusi masalah galau kaya gini..

Kedua-dua, tunangan atau lamaran atau pinangan atau khitbah atau istilah2 apapun itu yang intinya "mengutarakan maksud untuk menikahinya" itu sebaiknya ga dijeda dengan waktu pelaksanaan akad nikah yang terlalu lama.. misal kita melamarnya tahun 2009, tahun 2014 baru direncanain akad.. *ini mau nikah apa mau pemilu presiden sih..? hha* Nah, yang kaya gini baiknya dihindarin, sobat..

Kenapa ga boleh lama-lama? Sebab jarak yang lama antara khitbah dan nikah dapat menimbulkan keraguan mengenai keseriusan kedua pihak yang akan menikah, juga keraguan apakah keduanya dapat terus menjaga diri dari kemaksiatan seperti khalwat dan sebagainya. Keraguan semacam ini sudah sepatutnya dihilangkan sesuai sabda Rasulullah saw dibawah ini:
”Tinggalkan apa yang meragukanmu, menuju apa yang tidak meragukanmu.” (HR Tirmidzi & Ahmad).
Jadi kita sepakatin ya, "mengkhitbah atau melamar secepatnya untuk akad nikah yang masih lama" itu juga bukan solusi kegalauan ini.. *emangnya nikah kaya tiket, bisa dibooking jauh2 hari*

Ketiga-tiga, *ini kenapa keterusan ngikutin pola pertama-tama* mungkin kita akan berpikir,
 "Ya gampang aja donk, kalo misalkan target kita dilamar orang duluan, ya kita tinggal bilang ke dia untuk nolak lamaran orang itu karena kita juga punya niatan untuk melamar dia juga nanti.. selesai kan urusannya" -seseorang
Jiah, pemikiran kaya gini nih yang harus dibuang jauh-jauh, sobat.. Kenapa? Karena Rasulullah SAW terang-terangan melarang kita melamar gadis yang sudah dilamar orang lain duluan.. Kira-kira begini bunyi haditsnya,
“Janganlah seseorang meminang pinangan saudaranya sehingga peminang itu meninggalkannya atau mengizinkannya.” (HR Bukhari)
Dan salah kita juga kenapa bisa ampe kesalip duluan ama orang lain.. Dulu nunda-nunda ngelamar, giliran ada yang nyalip, baru mau ngelamar.. Ini namanya ga berani berkomitmen lebih awal sama niatan kita sendiri.. Tapi kalo kasusnya kita emang ga berdaya untuk melamar, ya ikhlasin lillahi ta'ala aja klo dia dilamar orang lain duluan.. Insya Allah berarti Allah menyiapkan calon yang lebih baik lagi jika sudah tiba saatnya kita tidak menunda-nunda pernikahan.. :)

Ok, jadi kita sepakatin ya, "baru berani melamar setelah ada orang lain yang melamar duluan" itu juga bukan solusi kegalauan ini..

Nah, kalo ud sepakat dengan ketiga hal tersebut, baru dah kita mulai pembahasan kajian ayatnya..

Kajian Ayat

Sebelum *lagi-lagi ketemu kata sebelum.. -__- kapan to the point-nya? hha,, sabar ya* kita mulai membahas kaitan ayatnya dengan permasalahan galau melamar gadis, kita coba kaji dulu makna sebenernya ayat ini ya..

Seperti yang disebutin sebelumnya, ayat ini sebenernya ngebahas tentang aturan penangguhan pernikahan bagi janda yang masih dalam masa 'iddah-nya.

Apa itu 'iddah?

'iddah itu secara istilah artinya masa dimana wanita yang baru saja diceraikan atau ditinggal mati oleh suaminya harus menangguhkan rencana pernikahannya dengan laki-laki lain sampai waktu tertentu. *nah, istilah 'iddah ini nanti ada kaitannya ama pembahasan galau ngelamar gadis*

Lamanya masa 'iddah? Lamanya masa 'iddah berbeda-beda tergantung kondisinya..

Untuk wanita yang ditalaq suaminya ,masa 'iddah-nya 3 kali haidh..
"Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhirat." (Al-Baqarah: 228).
Untuk wanita yang ditinggal mati suami, masa 'iddah-nya 4 bulan 10 hari
Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari.”(Al-Baqarah: 234).. 
Untuk wanita yang lagi hamil, masa 'iddah-nya sampai ia melahirkan anak di kandungannya
”Dan wanita-wanita yang hamil, waktu iddah mereka itu adalah sampai mereka melahirkan kandungannya.”(Ath-Thalaq: 4)
Dan untuk wanita yang belum sempat dicampuri oleh suaminya, maka tidak ada masa 'iddah baginya
”Hai orang-orang yang beriman, ’apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya, maka sekali-kali tidak wajib atas mereka iddah bagimu yang kamu minta, menyempurnakannya.”(Al-Ahzab: 49)
Intisari ayat

Potongan ayat yang menyebutkan,
“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka.."
Jadi ayat ini tuh memberikan toleransi kepada para lelaki yang memiliki niat menikahi janda yang masih dalam masa 'iddah-nya.. Laki-laki tersebut boleh menyampaikan niatannya secara tersirat atau dengan sindiran kepada sang janda.. Contoh, ia mengutus seseorang untuk menyampaikan kepada sang janda, "tolong beri kabar kepada kami jika masa 'iddah-mu telah usai.."..

Sang janda tentunya akan menangkap sinyal ini sebagai pertanda bahwa ada yang berniat menikahinya seusai masa 'iddah-nya habis.. Namun karena disampaikannya tidak secara blak-blakan, sang janda juga ga mau terlalu yakin.. Takutnya ia cuma kegeeran.. *ea.. ini janda ko malah jadi kaya ABG (Anak Baru Galau).. hha*


Lalu di potongan ayat selanjutnya, Allah berfirman,
"dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. "
Ini mempertegas bahwa selama masa 'iddah-nya belum habis, kita tidak boleh secara blak-blakan mengungkapkan maksud hendak menikah kepada sang janda, apalagi sampai janjian secara rahasia dengan janda tersebut.. Ini rawan terjadi karena kemudahan akses komunikasi pada zaman sekarang (seperti facebook, twitter, BB, dan pager.. *eh? pager?*)..

Nah, tujuan kenapa disampaikannya harus secara tersirat dan ga boleh blak-blakan ini tuh untuk menghindari kemungkinan sang janda berbohong tentang masa 'iddah-nya karena ingin segera dinikahi..

Kemudian Allah melengkapi firmannya di potongan ayat selanjutnya,
"Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepadaNya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”
Jadi, selama masa 'iddah-nya belum habis, Allah mempertegas larangan-Nya agar tidak terlintas di hati kita sedikit pun untuk menikahi Sang Janda sebelum masa 'iddah-nya benar-benar habis.. Dan Allah memperingati kita bahwasanya Ia Maha Mengetahui apa-apa yang ada di dalam hati kita.. So, jangan sekali-kali terlintas untuk melanggar larangan-Nya ini deh.. Kalo sempet terlintas, ya buru-buru taubat.. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun.. :)


Kaitan ayat ini dengan galau ngelamar gadis?

Alhamdulillah, akhirnya nyampe juga ke bagian utamanya.. :D *kepanjangan prolognya ya? hha* Sorry ya kalo berbelit-belit.. Tapi memang harus begitu skemanya, biar bahasnya ga setengah-setengah dan ga berpotensi menuai kontroversi..

Lamaran Tertunda karena Halangan dari Pihak Wanita

Oke, begini.. Tadi udah dijelasin kan tentang apa itu 'iddah? Nah, dalam kasus ini kita akan analogi-in istilah 'iddah itu sebagai "sesuatu hal yang menghalangi sang wanita untuk segera menikah".. Gimana? Sepakat ga? Ga terlalu jauh ko ama makna aslinya.. :)

Nah dalam kasus galau ini, misalkan kita udah punya target yang mau kita lamar, tapi setelah dateng ke orang tua-nya, ternyata orang tua-nya mengharapkan sang putri-nya ini untuk lulus kuliah terlebih dahulu, yaa kira2 4 tahun lagi laah.. *jiah.. itu mah baru mulai kuliah namanya.. :v hha*.. Nah, kita bisa menganggap sang putri ini "seolah-olah" sedang di masa 'iddah-nya.. Ya, 'iddah-nya ini bukan karena abis ditalaq atau ditinggal mati suami, tapi halangan dari hal lain, dalam kasus ini: harus menyelesaikan studi dulu..

*Sebenernya mungkin ga boleh kita campur adukin istilah kaya gini.. Makanya kita cuma anggep "seolah-olah" ini tuh 'iddah juga.. bukan 'iddah dalam arti yang sebenernya.. Jadi bagi yang mau protes masalah ini, tolong dimaklumi aja ya.. :)*

Nah, 4 tahun kan lama tuh.. Tapi dalam hati kita, kita masih punya keinginan untuk menikahinya dan ada kekhawatiran sang putri direbut orang selama 4 tahun masa 'iddah tersebut.. Nah, *kebanyakan ngomong "nah" nih.. :v* ga usah galau masalah ini sobat.. Karena sebenernya kita bisa berpegang pada ayat Al-Baqarah: 235 untuk menjawab persoalan ini..
“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka.."

Jadi, untuk memberi sinyal kepada sang putri bahwa kita masih setia menyimpan niatan kita untuk menikahinya, kita cukup dengan menyindir sang putri tersebut.. Cewe itu sensitif, disindir gitu mereka bisa langsung nangkap maksudnya kok.. *Asal nyindirnya pake bahasa yang cewe itu mengerti.. Tidak disarankan menyindir dengan menggunakan bahasa sansekerta.. catet!*

Nih ane kasih contoh cara nyindirnya..

A: "Neng.."
N: "Ya, bang.."
A: "Abang punya pantun nih buat neng.."
N: "Apa tuh, bang..?"
A: "Ada ikan mati kelelep.."
N: "Lah ikan apaan bang yang mati kelelep..? Ikan mah emang idup di aer, bang.."
A: "Lah bener donk.. Ikan kan mati tetep di aer, jadi abis mati dia kelelep..
      Masa iya sebelum mati dia sempet loncat dulu ke darat..?
      Udeeh, dengerin dulu aja.."
N: "Hhe.. Bisa aja si Abang.. Sok atuh lanjutin.."     
A: "Ada ikan mati kelelep..
      Dikuburnya pake peti mati..
      Bukan maksud Abang ngarep..
      Walau 4 tahun lagi, Abang rela ko menanti.."
N: "Uhh.. So Sweet.." *melting..*
A: "Dih.. Emang rela menanti apa yang Neng kira?"
N: "Rela menanti Neng lulus dulu kan, Bang?"
A: "Yee, geer.. Maksud Abang tuh, rela menanti piala dunia ditayangin di TV 4 tahun lagi..
      Hha.. Kabuur"
N: "Abang!!" *timpuk sendal*


Hahaha, kira2 begitu taktik nyindirnya.. Cukup jelas, tapi tidak secara blak-blakan mengungkapkannya.. *tapi jangan ditiru secara mentah-mentah ya.. Karena ane terlalu lebay mengilustrasikan kedekatan dua non-mahram dalam contoh tadi*

Sang putri dengan emosionalnya akan menangkap maksud dari sindiran ini.. Walaupun kita sempet mengemas sindiran tersebut seolah-olah cuma candaan, tapi Sang putri akan terus mengingat sindiran tersebut.. Dan dapat dipastikan ia akan setia menunggu pinangan kita seorang sampai masa 'iddah-nya usai (dalam kasus ini: menyelesaikan studi)..

Tapi yang perlu kita pahami, sindiran ini tidak berarti komitmen apapun bagi kedua belah pihak.. Karena sindiran ini tidak harus dijawab oleh pihak wanita.. Sehingga tidak bisa dikatakan sebagai kesepakatan atau janji pernikahan.. Sebagaimana disebutkan di lanjutan ayatnya,
"Dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf."
Seperti yang kita sepakati bersama di awal bahwa melamar sebaiknya tidak dijeda waktu yang terlalu lama dengan hari akad pernikahan.. Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak menyindir secara berlebihan yang akan berkesan seperti janji yang sungguh-sungguh.. Tapi cukup dengan menyampaikan maksud secara tersirat dan akan lebih baik jika disampaikannya dengan perkataan yang ma'ruf..

Nah, jika pada akhirnya sang Putri lebih memilih pinangan orang lain ketika masa 'iddah nya habis ketimbang kita, maka itu adalah haknya.. Terasa tidak fair sih.. Itulah kenapa Allah melanjutkan firman-Nya dalam ayat ini,
"Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis iddahnya.”
Allah mewanti-wanti kita supaya jangan terlalu bertekad atau terlalu yakin untuk menikahi sang putri yang masih dalam masa 'iddah tersebut.. Ini dengan tujuan agar kita tidak terlalu kecewa jika ternyata kenyataan setelah masa 'iddah itu habis tidak sesuai dengan harapan kita.. Pelihara niatan menikah kita ini tetep suci lillahi ta'ala.. Jangan berlebihan dalam berharap tentang hal-hal duniawi.. Insya Allah semua akan indah pada saatnya..

Satu lagi yang harus kita camkan baik-baik adalah, JANGAN MAIN-MAIN DENGAN SINDIRAN TENTANG HAL INI.. Jangan sampai kita menyindirnya cuma untuk main-main tanpa niatan serius menikahinya.. Ini bisa mengzhalimi pihak wanita.. Jangan sampai kita membuatnya menunggu dalam penantian yang tak berujung karena "sindiran kosong" kita ini.. Sebagaimana Allah berfirman melengkapi ayat ini,
"Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepadaNya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun..."
Allah Maha Mengetahui isi hati kita, jadi jika kita berniat mempermainkan wanita dengan sindiran kosong ini, maka segeralah bertaubat dan urungkan niatan kita itu.. Jika sudah terlanjur melemparkan sindiran kosong tersebut, maka sebaiknya segera memberikan klarifikasi kepada pihak wanita agar tidak terjadi kesalahpahaman..

Wallahu a'lam..

Nah, itu kasusnya kalo halangan lamarannya berasal dari pihak wanita.. Lalu bagaimana kalo halangannya berasal dari pihak pria itu sendiri?


Lamaran Tertunda Karena Halangan dari Pihak Pria

Berbeda kasusnya dengan halangan dari pihak wanita yang bisa dianalogikan sebagai 'iddah, halangan dari pihak pria ini tidak bisa dianalogikan sebagai 'iddah.. Karena 'iddah hanya berlaku bagi pihak wanita saja.. Jadi, apakah kita bisa berpegang pada ayat Al-Baqarah: 235 ini saat yang berhalangan adalah pihak pria? jawabannya tidak..

Dibandingkan berpegang pada ayat ini, sesungguhnya untuk kasus halangan dari pihak pria, maka hadits berikut ini lebih pas untuk diterapkan,
Rasulullah SAW. bersabda, “Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhori-Muslim)
Halangan dari pihak pria untuk menyegerakan menikah itu dapat dijadikan parameter ke-belum-mampu-an sang pemuda untuk menikah.. Oleh karenanya, dalam kasus ini, sebaiknya pihak pria berpuasa atau menahan dirinya dari upaya pendekatan dengan sang Putri..

Bersabarlah hingga benar-benar sudah tidak ada halangan dari diri kita pribadi, baru setelah itu kita melakukan pendekatan dan melamar sang Putri.. Ini dilakukan agar kita tidak "menggantung" sang Putri dalam penantian yang tidak pasti karena halangan dari diri kita..

Jika kita khawatir sang Putri tersebut direbut oleh orang lain, maka ikhlaskan lillahi ta'ala saja.. Karena pada dasarnya sang Putri memang belum menjadi hak kita.. Dan sudah menjadi hak sang Putri itu sendiri untuk menikah saat ia menilai tidak ada lagi baginya alasan apapun untuk menunda pernikahan..

Oleh karena itu, ane menyarankan kita benar-benar menimbang apakah alasan atau halangan dari diri kita untuk menunda pernikahan itu adalah benar-benar suatu hal yang fundamental dan tidak bisa ditoleransi atau hanya hal kecil yang sesungguhnya masih bisa dijalani sekalipun kita menikah..

Contoh,, kita ingin langsung lanjut studi kuliah S2 begitu lulus S1.. Dan kita menganggap kuliah S2 ini sebagai alasan untuk menunda pernikahan.. Nah, pemikiran yang kaya gini yang harus kita evaluasi, sobat.. Kenapa kita berpikir kuliah S2 sebagai alasan untuk menunda pernikahan? Apakah kita berpikir pernikahan hanya akan  memecah konsentrasi studi S2 kita? Coba lihat teman-teman mahasiswa S2 kita, bukankah kebanyakan dari mereka adalah bapak-bapak yang telah berkeluarga? Lalu kenapa kita berpikir mereka mampu lanjut studi sambil berkeluarga sedangkan diri kita sendiri tidak mampu?

Tapi ane ga memaksakan pandangan pribadi di sini.. Semua persoalan ini kembali ke pertimbangan kita masing-masing.. Ane hanya mencoba menyampaikan agar kita berhati-hati, jangan sampai kita menyesal kehilangan calon istri idaman kita hanya karena suatu halangan semu..

Wallahu a'lam..

Yap, sekian yang bisa ane sampaikan.. Mohon dikoreksi bila ada kesalahan.. Kesempurnaan hanya milik Allah, dan kekurangan berasal dari kesalahan dan kelalaian ane pribadi..

Alhamdulillah..
Wabillahil hidayah wat taufiq..
Wassalamu 'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu
[...]

Comments


See our minds have become messed up and their now filled with pollution
Tv screens and magazines we're beginning to look for a solution
Plastic surgery, diets and pills but still not seeing any form of improvement
We've stacked up all these dollar bills but still not sure what to do with them
We began to chase women and fornication to the point our girls don't even know who's
baby she's carrying
We're so afraid of commitment but have no problem with damaging
She has your kids now but your still not even contemplating the possibility of marrying 

See this is what happens when we neglected Allah's best examples
you call her Mary, but we call her Mariam
A women who was perfect since birt
The best to walk the skies
and the best to walk the surfaces of earth. 
The most exalted of all women,
that's why she was dedicated an entire chapter In the Holy Quran
the final revelation in which there will be none after

She was the best of all women, and to society she should be leading the way
I mean that's why our women be dressing like her,
coz just like Mary, when Allah decrees something we hear and we obey
See Mary used to cover up, despite everything they used to say
She would hide in hibernation, and to Allah she would pray
And when she was visited by Angels in the form of men,
she said if you fear Allah you would go away!
Because in the presence of men she would not stay

But anyways today were taught to be against segregation
Yet for in support of all forms of liberation
To free yourself from the clothes that only lead to your degradation
why do you got to cover your face for? we got to see your identification
But little do they know her identities right
there a women who fears Allah and commits to her religious obligations

See I respect all women to because thats what my religion teaches
To lower your gaze when your walking there's no need to check out every women's features
There's no need to even shake another women's hand because in reality theres only one reason
why a guy would be pleased to meet you And you can go ahead and deny it but don't
blame me for stating the obvious 
When the pornographic industry is worth billions
you still don't see where the problem is 
Sex is embedded into society to the point we'll exploit it to merely sell a car
So you can act like this is all new to you
but you know for a fact How innocent we really are

How about we look at the simplistic way we're taught to dress
It's like if you dress less than your destined for success
You then force your women into heels and have the nerve to say that we oppress
You got her to dress up tightly I mean its an opportunity
But every time we loose our mind, its like see what these ladies do to me

But I'm not blaming it on the women because we too have a responsibility
Prophet Muhammad said the best of men, is he who is best in his character
and the best of them, is he who is best to his lady after he married her
He was the best to his wives I mean just take a look at Aisha
He'd compete her in races and smile just to make her happier

So when you do marry
do so with the intention of only Paradise is where to you should plan to carry her
So the next time you think about carrying her to the alter, maybe you should alter your decision
Because if the only reason your marrying her for is the outside
then realise you'll be locked inside of a prison

For that reason, Prophet Muhammad said marry for four:
Beauty, family, status but most importantly religion
Because a women without religion is a women who could do with a bit of extra wisdom
We're meant to grow old together, mercifully 
so we could be protected by Allah's supervision.
But relationships are a mess and there's no guarantees your going to be a survivor
So be kind to her and know that Allah will be kinder
Be a man who stands in front but also a man who can stand beside her
And if your still looking for that good girl don't go chasing after behind her,
Rather search to find Allah first, for once you find Him your guaranteed to find her.
[...]