Alhamdulillah, akhirnya nyampe juga ke bagian utamanya.. :D *
kepanjangan prolognya ya? hha* Sorry ya kalo berbelit-belit.. Tapi memang harus begitu skemanya, biar bahasnya ga setengah-setengah dan ga berpotensi menuai kontroversi..
Lamaran Tertunda karena Halangan dari Pihak Wanita
Oke, begini.. Tadi udah dijelasin kan tentang apa itu 'iddah? Nah, dalam kasus ini kita akan analogi-in istilah 'iddah itu sebagai "sesuatu hal yang menghalangi sang wanita untuk segera menikah".. Gimana? Sepakat ga? Ga terlalu jauh ko ama makna aslinya.. :)
Nah dalam kasus galau ini, misalkan kita udah punya target yang mau kita lamar, tapi setelah dateng ke orang tua-nya, ternyata orang tua-nya mengharapkan sang putri-nya ini untuk lulus kuliah terlebih dahulu, yaa kira2 4 tahun lagi laah.. *
jiah.. itu mah baru mulai kuliah namanya.. :v hha*.. Nah, kita bisa menganggap sang putri ini "seolah-olah" sedang di masa 'iddah-nya.. Ya, 'iddah-nya ini bukan karena abis ditalaq atau ditinggal mati suami, tapi halangan dari hal lain, dalam kasus ini: harus menyelesaikan studi dulu..
*
Sebenernya mungkin ga boleh kita campur adukin istilah kaya gini.. Makanya kita cuma anggep "seolah-olah" ini tuh 'iddah juga.. bukan 'iddah dalam arti yang sebenernya.. Jadi bagi yang mau protes masalah ini, tolong dimaklumi aja ya.. :)*
Nah, 4 tahun kan lama tuh.. Tapi dalam hati kita, kita masih punya keinginan untuk menikahinya dan ada kekhawatiran sang putri direbut orang selama 4 tahun masa 'iddah tersebut.. Nah, *
kebanyakan ngomong "nah" nih.. :v* ga usah galau masalah ini sobat.. Karena sebenernya kita bisa berpegang pada ayat Al-Baqarah: 235 untuk menjawab persoalan ini..
“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu
dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka)
dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka.."
Jadi, untuk memberi sinyal kepada sang putri bahwa kita masih setia menyimpan niatan kita untuk menikahinya, kita cukup dengan
menyindir sang putri tersebut.. Cewe itu sensitif, disindir gitu mereka bisa langsung nangkap maksudnya kok.. *
Asal nyindirnya pake bahasa yang cewe itu mengerti.. Tidak disarankan menyindir dengan menggunakan bahasa sansekerta.. catet!*
Nih ane kasih contoh cara nyindirnya..
A: "Neng.."
N: "Ya, bang.."
A: "Abang punya pantun nih buat neng.."
N: "Apa tuh, bang..?"
A: "Ada ikan mati kelelep.."
N: "Lah ikan apaan bang yang mati kelelep..? Ikan mah emang idup di aer, bang..
"
A: "Lah bener donk.. Ikan kan mati tetep di aer, jadi abis mati dia kelelep..
Masa iya sebelum mati dia sempet loncat dulu ke darat..?
Udeeh, dengerin dulu aja.."
N: "Hhe.. Bisa aja si Abang.. Sok atuh lanjutin.."
A: "Ada ikan mati kelelep..
Dikuburnya pake peti mati..
Bukan maksud Abang ngarep..
Walau 4 tahun
lagi, Abang rela ko menanti.."
N: "Uhh.. So Sweet.." *
melting..*
A: "Dih.. Emang rela menanti apa yang Neng kira?"
N: "Rela menanti Neng lulus dulu kan, Bang?"
A: "Yee, geer.. Maksud Abang tuh, rela menanti piala dunia ditayangin di TV 4 tahun lagi..
Hha.. Kabuur"
N: "Abang!!" *
timpuk sendal*
Hahaha, kira2 begitu taktik nyindirnya.. Cukup jelas, tapi tidak secara blak-blakan mengungkapkannya.. *
tapi jangan ditiru secara mentah-mentah ya.. Karena ane terlalu lebay mengilustrasikan kedekatan dua non-mahram dalam contoh tadi*
Sang putri dengan emosionalnya akan menangkap maksud dari sindiran ini.. Walaupun kita sempet mengemas sindiran tersebut seolah-olah cuma candaan, tapi Sang putri akan terus mengingat sindiran tersebut.. Dan dapat dipastikan ia akan setia menunggu pinangan kita seorang sampai masa 'iddah-nya usai (dalam kasus ini: menyelesaikan studi)..
Tapi yang perlu kita pahami, sindiran ini
tidak berarti komitmen apapun bagi kedua belah pihak.. Karena sindiran ini tidak harus dijawab oleh pihak wanita.. Sehingga tidak bisa dikatakan sebagai kesepakatan atau janji pernikahan.. Sebagaimana disebutkan di lanjutan ayatnya,
"Dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka
secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan
yang ma’ruf."
Seperti yang kita sepakati bersama di awal bahwa melamar sebaiknya tidak dijeda waktu yang terlalu lama dengan hari akad pernikahan.. Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak menyindir secara berlebihan yang akan berkesan seperti janji yang sungguh-sungguh.. Tapi cukup dengan menyampaikan maksud secara tersirat dan akan lebih baik jika disampaikannya dengan perkataan yang ma'ruf..
Nah, jika pada akhirnya sang Putri lebih memilih pinangan orang lain ketika masa 'iddah nya habis ketimbang kita, maka itu adalah haknya.. Terasa tidak fair sih.. Itulah kenapa Allah melanjutkan firman-Nya dalam ayat ini,
"Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad
nikah, sebelum habis iddahnya.”
Allah mewanti-wanti kita supaya jangan terlalu bertekad atau terlalu yakin untuk menikahi sang putri yang masih dalam masa 'iddah tersebut.. Ini dengan tujuan agar kita tidak terlalu kecewa jika ternyata kenyataan setelah masa 'iddah itu habis tidak sesuai dengan harapan kita.. Pelihara niatan menikah kita ini tetep suci lillahi ta'ala.. Jangan berlebihan dalam berharap tentang hal-hal duniawi.. Insya Allah semua akan indah pada saatnya..
Satu lagi yang harus kita camkan baik-baik adalah,
JANGAN MAIN-MAIN DENGAN SINDIRAN TENTANG HAL INI..
Jangan sampai kita menyindirnya cuma untuk main-main tanpa niatan
serius menikahinya.. Ini bisa mengzhalimi pihak wanita.. Jangan sampai
kita membuatnya menunggu dalam penantian yang tak berujung karena
"sindiran kosong" kita ini.. Sebagaimana Allah berfirman melengkapi ayat ini,
"Dan ketahuilah bahwasanya Allah
mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepadaNya, dan
ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun..."
Allah Maha Mengetahui isi hati kita, jadi jika kita berniat mempermainkan wanita dengan sindiran kosong ini, maka segeralah bertaubat dan urungkan niatan kita itu.. Jika sudah terlanjur melemparkan sindiran kosong tersebut, maka sebaiknya segera memberikan klarifikasi kepada pihak wanita agar tidak terjadi kesalahpahaman..
Wallahu a'lam..
Nah, itu kasusnya kalo halangan lamarannya berasal dari pihak wanita.. Lalu bagaimana kalo halangannya berasal dari pihak pria itu sendiri?
Lamaran Tertunda Karena Halangan dari Pihak Pria
Berbeda kasusnya dengan halangan dari pihak wanita yang bisa dianalogikan sebagai 'iddah, halangan dari pihak pria ini tidak bisa dianalogikan sebagai 'iddah.. Karena 'iddah hanya berlaku bagi pihak wanita saja.. Jadi, apakah kita bisa berpegang pada ayat Al-Baqarah: 235 ini saat yang berhalangan adalah pihak pria? jawabannya
tidak..
Dibandingkan berpegang pada ayat ini, sesungguhnya untuk kasus halangan dari pihak pria, maka hadits berikut ini lebih pas untuk diterapkan,
Rasulullah SAW. bersabda, “Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang
telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah.
Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan
pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa
yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena
sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya”
(HR. Bukhori-Muslim)
Halangan dari pihak pria untuk menyegerakan menikah itu dapat dijadikan parameter ke-belum-mampu-an sang pemuda untuk menikah.. Oleh karenanya, dalam kasus ini, sebaiknya pihak pria
berpuasa atau menahan dirinya dari upaya pendekatan dengan sang Putri..
Bersabarlah hingga benar-benar sudah tidak ada halangan dari diri kita pribadi, baru setelah itu kita melakukan pendekatan dan melamar sang Putri.. Ini dilakukan agar kita tidak "menggantung" sang Putri dalam penantian yang tidak pasti karena halangan dari diri kita..
Jika kita khawatir sang Putri tersebut direbut oleh orang lain, maka
ikhlaskan lillahi ta'ala saja.. Karena pada dasarnya sang Putri memang belum menjadi hak kita.. Dan sudah menjadi hak sang Putri itu sendiri untuk menikah saat ia menilai tidak ada lagi baginya alasan apapun untuk menunda pernikahan..
Oleh karena itu, ane menyarankan kita benar-benar
menimbang apakah alasan atau halangan dari diri kita untuk menunda pernikahan itu adalah benar-benar suatu hal yang fundamental dan tidak bisa ditoleransi atau hanya hal kecil yang sesungguhnya masih bisa dijalani sekalipun kita menikah..
Contoh,, kita ingin langsung lanjut studi kuliah S2 begitu lulus S1.. Dan kita menganggap kuliah S2 ini sebagai alasan untuk menunda pernikahan.. Nah, pemikiran yang kaya gini yang harus kita evaluasi, sobat.. Kenapa kita berpikir kuliah S2 sebagai alasan untuk menunda pernikahan? Apakah kita berpikir pernikahan hanya akan memecah konsentrasi studi S2 kita? Coba lihat teman-teman mahasiswa S2 kita, bukankah kebanyakan dari mereka adalah bapak-bapak yang telah berkeluarga? Lalu kenapa kita berpikir mereka mampu lanjut studi sambil berkeluarga sedangkan diri kita sendiri tidak mampu?
Tapi ane ga memaksakan pandangan pribadi di sini.. Semua persoalan ini kembali ke pertimbangan kita masing-masing.. Ane hanya mencoba menyampaikan agar kita berhati-hati, jangan sampai kita menyesal kehilangan calon istri idaman kita hanya karena suatu halangan semu..
Wallahu a'lam..
Yap, sekian yang bisa ane sampaikan.. Mohon dikoreksi bila ada kesalahan.. Kesempurnaan hanya milik Allah, dan kekurangan berasal dari kesalahan dan kelalaian ane pribadi..
Alhamdulillah..
Wabillahil hidayah wat taufiq..